Men’s Republic, Republik Anak Muda

449
Sumber foto dari Instagram Yasa Singgih.

Saat seorang manusia diciptakan, dia tidak dapat memilih akan terlahir di keluarga mana, latar belakang keluarga yang seperti apa, serta bagaimana status sosial mereka di masyarakat. Terlahir dari keluarga kaya-raya mungkin menjadi impian sebagian besar manusia, kebutuhan maupun keinginan kita akan dapat terpenuhi dengan mudahnya. Banyak orang beranggapan bahwa sukses dapat mudah diraih apabila kita berasal dari keluarga yang kaya dan memiliki status sosial yang baik. Padahal kesuksesan pada dasarnya adalah dari niat dan tekad di dalam diri seseorang, bahkan kesuksesan dapat dimulai dari hal kecil dalam diri kita sendiri seperti berani mencoba dan mengembangkan potensi diri.

Seperti anak muda kelahiran 23 April 1995 di Bekasi, Yasa Paramita Singgih, yang sudah memulai usaha sejak ia masih remaja. Jalan hidup yang membawanya ke dalam dunia bisnis tidak semulus yang diharapkan, jatuh bangun dalam usaha sudah dirasakannya ketika masih remaja.

Mencari Uang Sejak Remaja

Yasa Singgih terlahir dari keluarga sederhana, anak ketiga dari tiga bersaudara. Saat duduk di bangku SMP kelas 3, ayahnya menderita sakit jantung. Kejadian ini membuat Yasa Singgih berpikir bagaimana kelak masa depannya. Dengan niat untuk meringankan beban orangtuanya, Yasa mencoba untuk mandiri dengan mencari uang sendiri. Ia lalu melamar sebagai seorang MC pada salah satu acara yang digelar di pusat perbelanjaan. Dalam seminggu ia berhasil mendapat Rp 350.000,- sekali tampil.

Saat itu Yasa belum mahir berucap dan mencairkan suasana sebagai pembawa acara. Acara yang dibawakannya bukan hanya acara ulang tahun, namun juga acara dewasa. Di usia 15 tahun tak jarang ia membawakan acara sebuah merek rokok yang diperuntukkan untuk kalangan 18 tahun ke atas. Tetapi hal tersebut tak menyiutkan semangatnya, ia yakin usahanya menjadi pembawa acara akan mengantarkan dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat mental.

Selepas kontrak menjadi pembawa acara, Yasa mulai terjun ke dunia bisnis walau masih skala kecil. Dia membeli kaos dalam jumlah besar dari Tanah Abang dan memanfaatkan Blackberry Messenger untuk menjual produk kaosnya secara online, dengan menggunakan merek Men’s Republic.

Perhitungan Bisnis Tidak Matang Membuatnya Bangkrut

Usaha kecil Yasa membuahkan hasil, sebelumnya hanya mengambil barang dari Tanah Abang kini memiliki merek sendiri. Di tahun 2012 Yasa mencoba melebarkan dunia usaha pada bidang kuliner. Ia membuka cafe bernama “Ini Teh Kopi” di kawasan Kebun Jeruk. Usaha cafe kecil-kecilannya berjalan lancar. Yasa pun membuka cabang kedua di Mall Ambassador Jakarta Selatan, namun karena perhitungannya tidak matang, usaha yang dirintisnya malah membuatnya rugi. Yasa harus menanggung kerugian sebanyak 100 juta rupiah saat itu. Hasil usaha dari Men’s Republic ia gunakan untuk menutupi kebangkrutan dari usaha cafe. Kedua usaha yang dimilikinya tersebut akhirnya bangkrut. Kala itu Yasa harus mempersiapkan diri untuk UN SMA sehingga Yasa menyampingkan usaha bisnisnya dan memilih untuk fokus UN.

Kegagalan Tidak Menyurutkan Semangatnya

Sumber foto dari Facebook Yasa Singgih.

Kemudian dengan tekad dan kemauan yang kuat Yasa kembali memulai bisnis dari awal tanpa memiliki modal. Meski kerugian mencapai 100 juta rupiah, Yasa tidak kapok dan itu bukan jadi penghalang bagi dirinya. Ia percaya bahwa usaha yang dimulai dari hal kecil dulu akan membuahkan kesuksesan untuk dirinya. Belajar dari pengalaman bisnis sebelumnya kini Yasa memperhitungkan konsep dan rencana bisnis yang tertata rapi.

Mengawali bisnisnya kali ini Yasa bekerjasama dengan sebuah pabrik sepatu. Pabrik tersebut memberikan 250 pasang sepatu kepada Yasa dan harus terjual dalam waktu 2 bulan. Yasa saat itu berhutang pada pabrik dulu, kemudian baru dibayarkan begitu sepatunya terjual. Dengan menggunakan merek Men’s Republic, Yasa memasarkan sepatu tersebut secara online yang memiliki pangsa pasar berusia 15-25 tahun dengan harga berkisar di bawah Rp.500.000,-. Terdapat enam pabrik yang bekerjasama dengan merek Men’s Republic.

Yasa Singgih mengoptimalkan media sosial untuk menawarkan produk-produknya, karena menurutnya lebih mudah dan cepat memasarkan merek Men’s Republic ke pasaran melalui platform media sosial. Men’s Republic dapat menjual 500 pasang sepatu dan mampu menghasilkan ratusan juta rupiah setiap bulannya. Kini Men’s Republic juga menjual pakaian, celana, ikat pinggang dan produk fashion pria lainnya. Yasa memilih untuk menggeluti fashion pria karena menurutnya fashion pria lebih simpel dan tidak ribet dibanding fashion wanita.

Kegigihan Mengantar Yasa Pada Kesuksesan

Pada usianya yang ke-18 tahun Yasa mampu membiayai kuliahnya di Universitas Bina Nusantara. Yasa bangga usaha kecil yang dirintisnya dapat membawa kesuksesan, bahkan dirinya dapat membayar uang kuliah sendiri. Menurut Yasa pendidikan formal juga penting karena ilmu yang diserap dari kuliah dapat diterapkan untuk melebarkan sayap bisnisnya. Berkat kesuksesan yang dimulai dari hal kecil kini ia telah mendapat berbagai macam penghargaan dan diliput oleh berbagai macam media. Ia juga sering diundang untuk menjadi pembicara di seminar untuk memberikan sharing seputar bisnis dan pengembangan diri.

Yasa Singgih masuk dalam daftar Forbes sebagai anak muda sukses di bawah 30 tahun. Walaupun Yasa Singgih sudah sukses, ia terus mengembangkan potensi dalam dirinya dengan banyak membaca buku dan menambah relasi. Baginya “When you stop learning you stop growing”. Yasa pun memiliki jargon yang cukup terkenal “Never too young to become a Billionaire”.