Sukses Bisnis Fashion Tidak Membuat Lupa Kepada Sesama

383
Sumber foto dari Internet.

Desainer Sianne Avantie atau lebih akrab disapa Anne Avantie adalah desainer yang sudah tak asing lagi dalam dunia bisnis fashion. Lahir pada tanggal 20 Mei 1954 di Semarang, namun menghabiskan masa kecilnya di kota Solo. Di usianya yang belia bakat Anne Avantie sudah terlihat. Ibunya sudah melihat talenta dirinya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, dari secarik coretan di selembar kertas Anne Avantie mulai merancang kostum panggung.

Bakat yang dimiliki Anne Avantie tidak disia-siakan. Berkat dukungan penuh dari keluarga, dengan tekun dan ulet bakat yang dimilikinya diasah menjadi hobby dan bisnis. Pada tahun 1989 ia mulai berkarier di dunia fashion sebagai desainer. Perjalanan karir Anne Avantie hingga mencapai kesuksesan tentu tak mulus. Banyak rintangan yang menerpa perjalanan bisnisnya, namun dari sanalah ia belajar terus dan mengembangkan potensi dirinya. Dengan mengusung konsep bertemakan Indonesia ia merancang kebaya yang disisipkan unsur dan etnik budaya nusantara. Rancangan kebayanya berhasil mengantarkan dirinya menjadi desainer kondang Indonesia.

Anne Avantie tidak mau ketinggalan tren budaya dan fashion yang terus berkembang. Ia selalu meluncurkan ide-ide brilian untuk dituangkan ke dalam karyanya. Anne berkeinginan karyanya dapat memberikan manfaat untuk orang lain. Karyanya pun diterima baik di dalam negeri maupun dunia internasional. Tekad Anne begitu kuat untuk memperkenalkan budaya Indonesia dengan cara melibatkan koleksi kebaya rancangannya dalam pentas pemilihan Putri Indonesia maupun Miss Universe. Berkat kerja keras dan tekad yang kuat Anne Avantie berhasil mendapat beberapa penghargaan yang disematkan untuk dirinya, salah satunya yaitu Kartini Award sebagai intuisi peluang bisnis yang baik.

Terketuk Pintu Hati Untuk Memberi Kepada Sesama

Suatu hari sosok Ibu yang disayangi Anne Avantie divonis kanker serviks. Selama 13 tahun Anne Avantie berbakti dan menemani ibunya menjalani perawatan hingga sembuh. Saat itu Anne Avantie tidak berhenti mengucap syukur. Dari situlah pintu nuraninya terketuk dan bermaksud untuk ‘membayar’ mukjizat yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.

Pada tahun 2000 Anne mulai mendirikan Pelayanan Kasih Hydrocephalus bekerjasama dengan RS St. Elisabeth Semarang. Bentuk dukungan untuk memberi kepada orang lain tak hanya berupa materi, bahkan ia juga turut serta ikut melayani sesama.

Anne Avantie berdedikasi untuk memberikan manfaat kepada orang lain yang membutuhkan. Ia kemudian membangun rumah singgah Wisma Kasih Bunda untuk pasien anak-anak penderita Atresia Ani, Tumor, Labiopalataschisis, bibir sumbing dan penyakit-penyakit lainnya.

Dari rumah singgah anak-anak mendapatkan perawatan khusus termasuk pelatihan, seperti fisioterapi, pemulihan gizi dan pelatihan mandiri. Dalam sehari, wisma tersebut melayani tiga sampai empat orang pasien.

Sempat Dicibir Orang-Orang

Niat dan tekadnya untuk mendirikan rumah singgah yang memberikan manfaat kepada orang lain ia salurkan dengan memberikan pertolongan pelayanan operasi secara cuma-cuma alias tanpa memungut biaya sepeser pun. Pasien yang datang hampir dari seluruh penjuru negeri seperti Nias, Aceh, Flores, Ambon hingga Papua.

Awal aksi kemanusiaan yang dilakukan Anne tak berjalan mulus. Sebagian warga mencibir bahwa kegiatan sosialnya hanya untuk alat untuk meningkatkan popularitasnya saja. Namun hal ini tidak mematahkan niat baiknya dalam berbagi kepada orang lain. Ia tetap fokus menjalani karir dan juga kehidupan rohaninya.

Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk menjalani bisnis serta juga menjadi seorang ibu dan istri dengan memasak dan berkumpul dengan keluarga. Anne Avantie sosok inspiratif, walaupun dianugerahi talenta, bakat serta kesuksesan, Anne tak lupa dengan kodratnya sebagai seorang ibu bahkan di sela-sela kesibukannya Anne tak juga lupa untuk berbagi kepada sesama. Keteladanan Anne memang layak menjadi cermin dan panutan bagi wanita Indonesia.