Batik Kultur Karya Anak Bangsa Tembus Pasar Dunia

485
Sumber foto dari Facebook Batik Kultur.

Di era yang sudah maju ini, kedudukan kaum lelaki dan perempuan hampir memiliki derajat yang sama. Perempuan sudah tidak lagi dituntut hanya menjadi ibu rumahtangga dan mengurus anak. Namun di era sekarang perempuan dapat memiliki hak yang sama dengan kaum lelaki, yaitu mengenyam pendidikan dan berkarir atau pun berwirausaha.

Gadis cantik Dea Valencia merupakan sosok perempuan yang sukses dalam berwirausaha di usianya yang masih belia. Muda, cantik dan juga kreatif, kalimat tersebut cocok untuk menggambarkan Dea Valencia. Mengapa tidak? Gadis kelahiran 14 Pebruari 1994 itu memiliki penghasilan miliaran rupiah per tahun dari bisnisnya dengan merek Batik Kultur by Dea Valencia.

Kesukaan Dapat Membuka Peluang Bisnis

Berawal dari ingin membeli batik yang ia sukai namun karena tidak mampu membelinya, akhirnya ia memanfaatkan koleksi kain batik antik alias kuno yang ia miliki di rumah. Dengan tangan kreatifnya, kumpulan batik bekas menjadi item fashion. Dari situlah timbul ide bisnis untuk berjualan kain batik.

Sumber foto dari Facebook Batik Kultur.

Sejak kecil Dea memang sudah menyukai kain batik. Awalnya ia gemar mengoleksi batik antik dan membantu ibunya menjual koleksi batik yang dimiliki mereka. Sejak saat itu Dea mulai jatuh cinta pada batik dan muncul ide untuk berjualan baju dari batik. Batik sisa pun tak luput disulapnya menjadi pelengkap item fashion batik ala Dea Valencia. Dan hasilnya, tak disangka produk yang menjadi cikal-bakal brand bisnis Batik Kultur miliknya tersebut sangat unik dan mempunyai nilai jual yang tinggi.

Menurut Dea Valencia, suskes dapat dimulai dari hal kecil dan bagaimana kita jeli dalam melihat peluang yang ada. Setelah melihat peluang bisnis dari kain batik. Dea serius menekuni bisnis fashion batik.

Awal penjualan melalui Facebook, Dea hanya membuat 20 potong pakaian. Penjualan batiknya terus berkembang hingga mencapai 800 potong per bulannya. Dengan harga yang dibandrol 250 ribu sampai 1,2 juta rupiah, omzet yang didapatinya mencapai 3,5 miliar rupiah per tahun atau 300 juta rupiah per bulan.

Bisnis di bidang fashion Batik Kultur ini ia rintis benar-benar dari nol. Dea sendiri yang menjadi model Batik Kultur. Baginya ia harus bangga memakai produk sendiri, baru orang lain dapat tertarik dengan produk Batik Kultur.

Social Media Menjadi Pilihannya

Sebagai alumni program studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Dea Valencia paham betul kekuatan internet untuk pemasaran. Dea memanfaatkan jaringan internet untuk memasarkan produknya. Ia memanfaatkan platform Facebook dan Instagram sebagai media komunikasi dengan konsumennya. Website pun juga ia rambah untuk memasarkan produknya.

Dengan pemasaran online marketing yang ia lakukan melalui website Batikkultur.com. Dea sungguh tidak menyangka bahwa hal kecil yang dirintisnya untuk mencapai kesuksesan berbuah manis. Penggemar Batik Kultur bukan hanya dari Indonesia namun juga diminati konsumen asing dari beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Hongkong, Belanda, Singapura dan Norwegia. Tentu hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi gadis yang mengawali penjualan batik pada saat kuliah di semester tiga.

Sempat Mendapat Hambatan

Dalam mengembangkan bisnis apapun tidak selalu berjalan mulus, tantangan dan masalah tak luput dari dunia bisnis. Demikian juga bagi Dea Valencia, tuntutan akan masalah hak cipta dilayangkan pada brand “Batik Kultur” karena merek tersebut telah dipakai oleh pengembang bisnis lain. Hal ini sempat mengganggu mental Dea dan mempengaruhi produktifitas bisnisnya. Namun hal tersebut tak mematahkan semangat bisnis Dea. Baginya tidak ada jalan pintas menjadi sukses. There is no elevator to success, you have to take the stairs. Ia berhasil menyelesaikan tuntutan tersebut. Bisnis yang dimulai dari hal kecilnya tersebut dapat ia selamatkan dan berjalan dengan lancar.

Tetap Berhati Mulia

Meski memiliki pendapatan miliaran rupiah. Dea memiliki hati yang mulia. Di balik produksi Batik Kultur, ia mempekerjakan orang-orang yang tidak mempunyai kaki namun memiliki tangan untuk menjahit sehingga dapat membantu memproduksi Batik Kultur. Bentuk kepedulian sosialnya diwujudkan dengan mempekerjakan mereka, walaupun mempekerjakan kaum difabel memang memiliki tantangan tersendiri.

Salah satu karyawannya yang bernama Ari saat pertama kali bekerja harus menempuh jarak cukup jauh dari workshop. Hal ini membuat Ari menaiki sepeda ontel atau angkot untuk bekerja. Sekarang Ari mampu menyicil sepeda motor sendiri. Sungguh perasaan yang tak bisa digambarkan melihat Ari naik motor barunya. Bagi Dea usaha yang dimulai dari hal kecil seperti kecintaannya akan batik harus memiliki timbal balik untuk masyarakat: Giving back to society!