Layani Pasien Tanpa Pasang Tarif

411
Sumber foto dari Facebook dr Aznan Lelo.

Selama ini jika kita berobat ke dokter biayanya mahal. Pernahkah kalian berobat ke dokter dan membayar biayanya dengan seikhlas hati? Di sudut kota di kawasan Jl. Puri Medan, Kelurahan Komat, Kecamatan Medan Area, Medan Sumatera Utara berdiri sebuah bangunan tua. Tanpa papan nama rumah itu dijadikan tempat praktik, Prof. dr. Aznan Lelo, PhD, Sp.FK.

Di kediamannya itu, dokter yang juga merupakan guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) ini membuka praktik dan melayani pasiennya tanpa memasang tarif. Pasien yang datang membayar jasa konsultasi dan obat racikannya dengan sesuka hati.

Membayar dengan Ikhlas Hati

Pasien yang berobat kepadanya berasal dari berbagai kalangan. Dari yang mengendarai becak, sepeda motor, sampai mobil. Pada meja registrasi pasien, telah tersedia amplop-amplop untuk mengisi tarif ikhlas hati yang diberikan saat selesai pemeriksaan dan konsultasi.

Aznan Lelo tidak segan memarahi pasiennya bila ada yang menanyakan tarif kepadanya. Menurutnya, mengobati adalah untuk menolong bukan berbisnis. Karena aktifitasnya yang juga dosen, maka praktiknya baru buka pukul 17.00 WIB. Kadang dr. Aznan memberikan obat hasil racikannya, kadang juga menulis resep. Obat-obat yang dipilihnya merupakan obat generik sehingga mudah didapatkan di apotek dengan harga terjangkau.

Disenangi Pasiennya

Pasien dr. Aznan Lelo, Andi (30) seorang kontraktor pernah membawa tiga anaknya berobat bukan hanya karena tidak memasang tarif namun karena ia benar-benar percaya pada kemampuan dr. Aznan Lelo. Saat ketiga anaknya sakit batuk pilek, ia membawanya berobat ke dr. Aznan. Dulu ketiga anaknya memiliki penyakit kelenjar di lehernya, dokter lain memvonis untuk mengambil tindakan medis. Setelah berobat dengan dr. Aznan selama kurang lebih enam bulan radang kelenjar pada tiga anaknya sembuh. Andi memaparkan, metoda pengobatan yang dilakukan dr. Aznan sangat teratur dan bagus. Karena dr. Aznan seorang ahli farmakologi, keahliannya dalam meracik komposisi obat sangat tepat, obat yang diresepkan juga relatif terjangkau. Tentu ini memberi manfaat kepada pasiennya yang kurang mampu dari segi ekonomi. Banyak pasien yang sebelumnya berobat namun belum kunjung sembuh, berangsur membaik setelah berobat dengannya.

Aznan juga dikenal baik dan rajin bersedekah, tak jarang isi amplop hanya berisi Rp 5.000. Namun dirinya tidak menghiraukan, karena baginya menjadi seorang dokter bertugas melayani pasiennya dengan ikhlas. Ia juga pernah membelikan makanan dari amplop pasien untuk dimakan bersama-sama.

Biasanya pasiennya sekali berobat memasukan Rp. 25.000,- terkadang Rp. 30.000,-. Pasiennya mengaku senang karena dr. Aznan adalah dokter yang bijaksana dan tidak komersil. Dalam kegiatan praktiknya, tak hanya melayani pasien dengan baik, dr. Aznan juga melayani mahasiswa-mahasiswanya yang membantu di tempat praktiknya dan ia juga berpesan untuk menjadi dokter yang amanah.

Dokter Bukan Cita-Citanya

Sejak kecil ia tidak bercita-cita menjadi seorang dokter, namun menjadi orang yang berguna dan memberi manfaat kepada masyarakat. Walau ia belum tahu ingin berprofesi sebagai apa. Saat SMP di kala ia sedang belajar rumus aljabar, kakaknya menanyakan apa cita-citanya kelak, dr. Aznan berpikir ingin menjadi insinyur nuklir. Kakaknya memberikan nasihat kepadanya bahwa daripada membuat nuklir yang dapat diperuntukkan melukai orang lain lebih baik menjadi seseorang yang berguna, yang dapat menolong orang lain. Dari sanalah dr. Aznan Lelo merenung dan mulai membuat ranking profesi, dari dokter, guru dan perawat.

Terlahir dari kedua orangtua penjahit, ia bertekad untuk kuliah di kedokteran. Awalnya ia terpaksa berbohong kepada kedua orangtuanya lantaran tidak disetujui kuliah di kedokteran. Setelah memberi pengertian dan penjelasan dr. Aznan berhasil masuk kuliah, ia juga mengajar sebagai guru les privat sebagai pemasukan tambahan untuk biaya kuliahnya.

Tangan Di Atas Lebih Baik

Dokter yang akrab disapa Buya ini tak terlalu bernafsu dengan harta duniawi. Prinsip hidupnya yang penting tak ada hutang. Prinsip itu tertanam di dalam dirinya sejak kecil hingga sekarang. Prinsip itu ia pegang menjadi keyakinan. Ia yakin rejeki sudah ada yang mengatur.

Menurutnya manusia harus memiliki pribadi tangan di atas, karena dengan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dengan tangan di atas kita memberi, memberi dalam artian akan membawa manfaat dan berkah untuk orang lain. Ia percaya rejeki, jodoh dan maut sudah ada yang mengaturnya. Bila kita sering memberi dan membagi kepada orang lain maka kebaikan kita juga akan dilihat dan dibalaskan oleh Maha Pencipta.