Mimpi Untuk Danau Toba

    305
    Dengan later belakang danau Toba. Sumber foto dari Facebook Togu SImorangkir.

    Togu Simorangkir namanya, awalnya pria yang hobi memakai sortail (ikat kepala) ini mulai merasa gelisah melihat lingkungan kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, yang semakin jorok penuh dengan sampah dan limbah. Air danaunya mengalami degradasi dan terancam kelestariannya akibat perilaku manusia. Banyaknya keramba jaring apung, limbah rumah tangga, tumpahan minyak dan penghancuran ekosistem hutan oleh perusahaan ikut andil dalam perusakan lingkungan di sekitarnya.

    Hal ini membuat pria kelahiran Pematang Siantar 26 November 1976 tak berdiam diri. Dalam upaya mengajak masyarakat melestarikan lingkungan maka didirikanlah Yayasan Alusi Tao Toba. Togu membuat program pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan. Berbekal pengalamannya sebagai peneliti Yayasan Orangutan Indonesia, ia memutuskan untuk pulang ke kampungnya dan mengabdi pada tanah kelahirannya.

    Kapal Belajar

    Alusi Tao Toba membuat kegiatan perpustakaan keliling. Togu menjuluki perpustakaan tersebut dengan Kapal Belajar. Kapal Belajar ini siap ‘berlayar’ ke delapan kabupaten di Danau Toba, yakni Samosir, Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hansundutan, Karo, Dairi dan Pakpak Barat. Kegiatan ini ia sebut pendidikan universal tanpa memandang ras, suku dan agama.

    Sejauh ini Alusi Tao Toba memiliki empat sopo (rumah) belajar untuk melayani empat desa di empat kecamatan. Togu juga memiliki 13 relawan yang mengajari anak-anak membaca dan budi pekerti, seperti mengucapkan terimakasih, meminta tolong, meminta maaf, dan tidak membuang sampah sembarangan.

    Ada delapan ribu anak di delapan kabupaten yang belajar di sopo belajar Alusi Tao Toba. Togu memilih masuk dari pendidikan untuk perlahan-lahan merubah perilaku dan cara pikir masyarakat. Menurutnya dengan memberi manfaat kepada masyarakat Danau Toba dalam bentuk pendidikan akan membuat mereka lebih mudah diajak untuk menjaga kelestarian Danau Toba.

    Ingin Masyarakat Melek Pengetahuan

    Pada awal Alusi Tao Toba berdiri, Togu harus berhadapan dengan para orangtua yang memarahi anaknya bila tidak membantu ke ladang. Tak jarang para orangtua memukul anaknya karena geram melihat anaknya malah membaca buku di sopo belajar. Dengan sabar, Togu dan relawan menjelaskan kepada orangtua kegiatan yang diselenggarakan di sopo belajar.

    Tak jarang sopo belajar yang didirikannya akan sepi pengunjung bila musim panen, karena anak-anak membantu orangtuanya di ladang. Dengan tekad dan niat dari Togu, ia menggalang dana untuk membuat perpustakaan dengan sepeda motor. Dengan begitu anak-anak yang sedang bekerja di ladang bisa belajar. Togu dan relawan ingin mendorong masyarakat untuk melek pengetahuan, menurutnya dengan perpustakaan motor akan mudah menjangkau masyarakat dan akan memberi manfaat dalam segi pendidikan untuk warga.

    Didikan Orangtua

    Sejak kecil Togu sudah diajarkan untuk selalu berbagi oleh orangtuanya. Ayahnya hanya seorang petani, yang mengajarkan kepadanya bahwa di rumah hanya memiliki lima baju, ia akan menyumbangkan dua baju miliknya untuk orang lain yang membutuhkan.

    Ibunda Togu adalah seorang bidan, Togu sering melihat ibunya melayani ibu-ibu hamil di desanya yang terkadang tidak dibayar, saat ia menanyakan perihal tersebut ibunda Togu hanya tersenyum. Di kala itu Togu mengerti arti berbagi kepada sesama dengan tulus.

    Sumber foto Facebook Togu Simorangkir.

    Didikan dari kedua orangtua Togu menurun kepada anaknya. Awal mula Alusi Tao Toba didirikan dengan modal Rp 5 juta, setelah itu biaya operasional lainnya dibiayai dengan dana dari kantong pribadi Togu serta sumbangan dari para dermawan. Togu berkomitmen tidak mau mendanai yayasan dari dana perusahaan perusak lingkungan dan rokok.

    Togu termasuk pribadi yang kuat dengan prinsipnya, ia melakukan penggalangan dana untuk mendanai yayasannya tersebut. Salah satu cara Togu mencari dana dengan menggelar Toba Charity, dengan jalan santai dan berdonasi Rp. 1.000,- per hari.

    Hal gila juga pernah ia lakukan untuk menggalang dana, ia pernah berenang 9 kilometer selama 8 jam di Danau Toba. Padahal ia hanya berlatih di sungai belakang rumahnya. Togu sempat kram berkali-kali dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Togu tidak mau sopo belajar dan kegiatan Alusi Tao Toba sampai terhenti hanya karena tersendat dana karena ini juga akan berdampak pada niat mulianya untuk memberi pendidikan kepada masyarakat yang bermanfaat untuk pelestarian lingkungan.

    Langkah-langkah yang dilakukan Togu untuk menyadarkan warga sekitar Danau Toba tentu tidak dapat langsung terlihat hasilnya. Semua butuh waktu dan proses untuk mewujudkan cita-citanya. Suatu ketika Togu melihat bahwa kepercayaan diri pada anak-anak meningkat, mereka lebih sadar untuk menjaga lingkungan.

    Togu akan terus berbagi kepada anak-anak di sekitar Danau Toba. Mimpinya untuk melihat lingkungan di kawan Danau Toba bersih dari sampah. Semangatnya tidak akan pernah padam bahkan kini ia memiliki mimpi lain yaitu ingin membangun rumah singgah bagi orang dengan gangguan jiwa.