CSR Seru Penjaga Warisan Kuliner Nusantara

286
Ilustrasi masakan indonesia, sumber gambar: Google

Indonesia disebut negeri kaya, bukan isapan jempol. Bukan sekedar ungkapan klise pemerintah untuk membuat rakyatnya berbangga diri. Kenyataannya, negeri ini memang kaya akan berbagai macam hal.

Salah satunya adalah kekayaan ragam kuliner. Rendang dan Nasi Goreng telah terpilih menjadi masakan terenak nomer 1 dan 2 di dunia tahun 2017, versi CNN. Rendang berasal dari daerah Sumatera Barat dan Nasi Goreng bisa jadi ada di hampir seluruh pelosok Indonesia. Tentunya hampir setiap daerah memiliki resep dan racikan yang khas dan berbeda.

Namun kekayaan ini bukan tanpa ancaman. Gempuran produk luar negeri dengan berbagai kelebihannya bisa menggeser popularitas kuliner lokal dari rumahnya sendiri. Setelah sekian lama pengaruh globalisasi masuk ke Indonesia melalui pengaruh kuliner, maka belakangan ini mulai timbul kerinduan dari masyarakat untuk balik ke kuliner lokal. Akibat globalisasi juga menyebabkan makanan lokal semakin langka ditemukan. Selama bertahun-tahun makanan lokal dianggap tidak sekelas dengan makanan impor.

Untungnya sekarang beberapa mal kelas menengah atas sudah mulai rutin membuat program Kuliner Nusantara. Kebetulan program ini disambut baik oleh masyarakat. Contoh kuliner lokal yang sudah masuk mal antara lain Toge Goreng Jakarta, Nasi Uduk Betawi, Laksa Tangerang, Asinan Bogor, Bubur Cianjur, Otak-otak Palembang, dan sebagainya. Di luar itu juga masih banyak jajanan lokal seperti Rujak Juhi, Gulali, Es Podeng, Kue Cubit.

Selain jenis kuliner yang sudah dikenal di atas, masih banyak jenis Kuliner Nusantara eksotis yang belum terlalu dikenal, misalnya: Cakalang Banda, Tumbu Beta Ruma khas Ambon, Pindang Agan khas Palembang, Sego Rempah khas Surabaya, Sate Beureum Mang Soleh khas Bogor, Sate Maranggi khas Purwakarta, Sego Kucing Omah Londo khas Solo, Sop Ayam Pechok khas Klaten, Sayap Legit Limo Sayapan khas Bandung, Klapertaart khas Manado dan Otak-otak Si Dia khas Jakarta.

Karena melihat antusias masyarakat yang begitu besar, maka banyak mal kemudian ikut membuat program serupa yang beragam untuk menarik pengunjung. Program ini menjadi andalan pihak mal untuk meramaikan tempatnya. Bahkan di beberapa acara, pengunjung yang datang rela membeli tiket masuk.

Salah satu penggagas awal program Kuliner Nusantara adalah ‘Festival Jajanan Bango’ (FJB) yang dibuat oleh perusahaan Kecap Bango. Acara yang secara konsisten diselenggarakan setiap tahun sejak 2005 ini adalah salah satu aktifitas tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan. CSR atau Corporate Social Responsibility adalah program yang dibuat perusahaan untuk memberikan kontribusi balik kepada masyarakat yang telah ikut membesarkan perusahaan tersebut. Tentunya hanya perusahaan besar yang telah menikmati laba lumayan yang sanggup membuat aktifitas CSR.