In God We Trust, All Others Must Bring Data

    274
    Ilustrasi koran. Sumber gambar: Google

    “In God we trust, all others must bring data”

    Ungkapan di atas saya kutip tanpa diterjemahkan dari sumber berikut. Dituliskan di sana bahwa Edwards Deming (alm.), seorang engineer, profesor, pengajar, penulis dan juga konsultan dari Amerika membuat ungkapan terkenal tersebut.

    Tulisan ini bukan tentang dia, ataupun siapa yang pertama kali membuat ungkapan tersebut, melainkan lebih ke makna dan bagaimana relevansi dari ungkapan tersebut dalam berbagai hal sehari-hari. Saya yakin ungkapan ini tidak akan pernah kadaluwarsa. Secara harfiah, ungkapan tersebut berarti kita tidak bisa percaya kepada apapun juga (selain absolut kepada Tuhan) apabila tidak disertai dengan data pendukung.

    Di dalam aktivitas keseharian yang saya jalani, data adalah bagian terpenting di dalam membuat sebuah perencanaan dan keputusan; Semakin banyak data yang diperoleh semakin baik. Data yang salah akan menjadikan perencanaan ataupun keputusan yang dibuat menjadi kurang tepat, semakin banyak data salah yang didapatkan, semakin melenceng jauh keputusan atau perencanaan yang dibuat dari yang seharusnya. Tentu saja kata “seharusnya” di sini menjadi absurd, karena referensinya menjadi kabur akibat kesalahan data tadi.

    Contoh lain yang mempunyai relevansi dengan tulisan ini adalah maraknya berita-berita hoax (bohong/menipu), dan betapa terlalu seringnya saya merasa gregetan dengan fenomena orang-orang yang mudah percaya dengan berita-berita tersebut (dan berita-berita satire). Seakan-akan tidak bisa membedakan antara berita yang benar ataupun yang termasuk kategori hoax dan satire. Dan yang menjadikan ini lebih buruk adalah dengan ikut menyebarkan berita-berita tersebut, tanpa mau sekalipun berusaha untuk mencari tahu dengan lebih seksama kebenaran dari berita tersebut. Bagi saya, turut menyebarkan berita-berita bohong menjadikan si penyebar sama bersalahnya dengan pembuat; Mereka telah menjadi bagian dari sistem kebohongan tersebut dengan menjadi relay, konduktor ataupun amplifier dari kebohongan yang sedang dilakukan.

    Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi lebih bijaksana dan lepas dari lingkaran kebohongan tersebut? Saya tidak punya formulasi khusus untuk ini, akan tetapi beberapa hal ini yang biasa saya lakukan untuk merasa “lebih” yakin akan kebenaran sebuah berita:

    • Melihat apakah sebuah berita cenderung memberitakan dengan berlebihan ataupun ekstrim.
    • Melakukan proses pencarian di google, dengan kata kunci isi/intisari berita dengan tambahan kata hoax
    • Membandingkan apakah berita tersebut muncul di media-media mainstream.

    Dengan melakukan hal-hal di atas, apakah berarti pasti bisa mendapatkan kesimpulan bahwa berita tersebut benar ataupun salah? Tidak juga, akan tetapi yang pasti saya tidak akan menyebarkan berita yang data pendukungnya tidak lengkap.

    Berita-berita bohong akan selamanya ada, akan tetapi kita tidak perlu selamanya menjadi kurang berakal.

    -FL