Menggapai Ketulusan

    250
    Sumber gamber: Pixabay

    Saya selalu menganggap sebuah ketulusan berbanding lurus dengan keramahan, kedua hal tersebut menurut saya saling berhubungan. Keramahan akan terlihat dari cara bertutur dan bersikap yang tulus, demikian pula dengan ketulusan akan terpancar melalui sikap dan ucapan yang ramah. Keduanya memiliki ‘gesture’ yang sama yang menandakan sebuah kebaikan.

    Saya kagum melihat hal-hal yang mengandung ketulusan yang tidak menjadi sebuah keharusan karena keterpaksaan, dan menjadikan hal-hal tadi sebagai sebuah masukan untuk diri. Hal-hal kecil seperti mengantri dengan baik, atau saat membuka pintu mendahulukan mereka yang membutuhkan atau tetap menjaga pintu untuk orang di depan atau di belakang kita saat kita membuka pintu. Mengucapkan terima kasih dengan tersenyum kepada ‘waiter’ yang mengantarkan makanan ataupun membantu menuangkan minuman kita saat kita makan. Dan bila kita benar-benar perhatikan, banyak sekali kesempatan untuk dapat melakukan atau mengucapkan hal-hal positif kepada mereka yang berada di sekeliling kita setiap hari.

    Dalam beberapa kesempatan berada di negara lain, saya terus melihat ‘gesture’ seperti ini diperlihatkan, seperti sebuah budaya yang sudah mengakar dan seakan menghentak kepala saya dengan sebuah pertanyaan kenapa hal-hal demikian hampir tidak pernah atau sangat jarang saya lihat di negara sendiri? Sebagai manusia yang merupakan mahluk sosial, saya percaya sebuah sikap atau gesture yang positif dan baik pasti akan menginspirasi orang di sekitar kita untuk melakukan hal yang sama; Sebuah proses berantai yang tidak akan terputus.

    Ada sebuah pengalaman menarik yang pernah saya dapatkan saat saya berada di Tokyo, Jepang. Saat itu saya sedang mencari sebuah alamat dan suasana sekitar sudah mulai gelap, seingat saya saat itu sudah sekitar pukul 19.30. Menggunakan Google Maps juga tidak banyak membantu karena penggunaan huruf kanji yang tidak saya mengerti. Saat kebingungan, saya melihat ada seseorang berjalan kaki, tampaknya seperti baru pulang dari tempat bekerja dan melintas di depan saya. Kepada orang tersebut saya tanyakan alamat yang saya cari; Dan secara mengejutkan orang tersebut berbalik arah, dengan ramah menjelaskan alamat tersebut dan bahkan seakan kuatir kalau saya tersesat, dia mengantar saya ke alamat yang saya cari. Selama lebih kurang 10 menit, saya dan orang tersebut berjalan sampai hanya beberapa meter saja dari rumah yang saya cari.

    Sebuah sikap tidak terduga yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya, sebuah pengalaman tidak terlupakan yang langsung membuat saya jatuh hati dengan sikap tulus ini. Dan di negara yang sama, pada dua kesempatan berbeda berikutnya, lagi-lagi saya mengalami pengalaman serupa. Saya melihat sikap seperti ini adalah bagian dari budaya, karakter dan kebanggaan serta nasionalisme yang tidak semu dari masyarakat di sana, mereka tidak berbicara atau bersikap secara simbolik, mereka melakukannya dengan bahasa yang universal yaitu kebaikan, keramahan dan ketulusan.

    Pengalaman-pengalaman di atas menginspirasi saya untuk mulai melakukan hal yang serupa, dan berharap sikap tersebut juga dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang di sekeliling saya.

    -FL