Nalar, Etika dan Empati di Jalan

    278
    Ilustrasi di jalan. Sumber gambar: Google

    Setiap hari untuk beberapa bulan terakhir, saya menjadi pemakai setia Jalan Tol Jakarta – Cikampek, dari yang hanya sekitar 1 jam perjalanan sampai beberapa hari yang lalu mencapai maksimum 3,5 jam; Dan saya yakin akan bertambah lagi waktu yang digunakan, dengan sedang berlangsungnya pembangunan Jalan Tol Jakarta – Cikampek II Elevated, pembangunan LRT dan Kereta Cepat Jakarta – Bandung pada saat yang bersamaan. Wah tidak sabar menunggu ini selesai, karena akan keren sekali!

    Setiap hari pula saya menyaksikan berbagai perilaku para pengguna jalan tol, dari yang rapih berbaris, sampai yang seperti kutu loncat, pindah kiri dan kanan, sampai menggunakan bahu jalan. Semua demi mengejar waktu yang memang harus saya akui untuk situasi saat ini menjadi tidak menentu, karena saya sudah mencoba berbagai variasi dari berangkat pukul 05.30 sampai pukul 07.30 dan hasilnya tidak selalu yang berangkat pagi akan tiba di tempat tujuan lebih awal; Walaupun demikian saya akan mencoba berangkat lebih pagi lagi dan melihat hasilnya.

    Ada satu hal yang menurut saya menarik dan cukup membuat saya memiliki harapan dan pandangan positif terhadap pemakai jalan tol; Bilamana ada ambulans lewat, beberapa kali saya menyaksikan banyak yang sudah langsung secara sadar dengan segera meminggirkan kendaraannya. Bentuk kepedulian dan empati terhadap pengguna jalan tol yang lebih membutuhkan, untuk ini saya acung jempol.

    Akan tetapi di saat yang bersamaan, saya juga melihat hal lain yang sedikit banyak membuat kecewa, dengan banyaknya penggunaan Voorijder (motor pengawalan atau pembuka jalan) yang bisa jadi tidak semestinya. Setiap kali saya lewat, saya selalu mendapati sekitar 3-5 kali pengawalan seperti ini terjadi. Untuk pejabat yang berwenang yang sudah diatur undang-undang, tentunya tidak masalah, karena memang ini bagian dari bentuk pengawalan yang didapatkan, tetapi ada dua kelompok lain yang menurut saya memiliki etika dan empati yang kurang dan cenderung lebih memaksakan ego, yaitu masyarakat sipil yang memang tidak ingin terkena macet ataupun kelompok pengguna jalan yang secara tiba-tiba mengambil manuver untuk membuntuti barisan yang dikawal, termasuk membuntuti mobil ambulans!

    Apakah sebagian dari kita sudah kehilangan kemampuan untuk bernalar, beretika dan berempati terhadap sesama pengguna jalan? Terkena macet di jalan? Nikmati saja. Tidak ingin telat karena macet? Datang lebih pagi! Waktu terbuang karena macet? Lakukan hal yang tetap bisa membuat kita produktif! Saya sejak hampir setahun ini terbiasa untuk mendengarkan audiobooks atau podcast yang berhubungan dengan apa saja selama berkendaraan, tidak perlu ada waktu yang kita rasa terbuang percuma koq!

    Oh ya, kalau nanti LRT sudah jadi, silahkan menggunakan fasilitas tersebut, pasti tidak macet.

    -FL