Pentingnya Kacamata untuk Anak Sekolah

    198
    sumber gambar: aktual.com

    Pernah terbayang kalau suatu hari mata kita tidak lagi berfungsi? Dunia menjadi gelap, hitam total. Sangat mengerikan jika mengalami kebutaan. Mata adalah obyek paling penting dari panca indera manusia. Bukan berarti indera yang lain tidak penting, tapi mata adalah indera yang belum dapat digantikan oleh teknologi buatan manusia, jika rusak. Tentunya sebelum rusak total, indera mata masih dapat dibantu oleh beberapa alat bantu jika seseorang mengalami gangguan penglihatan. Yang paling ringan adalah fungsi kacamata sebagai alat bantu penglihatan. Dimulai dari usia sekolah, kesadaran untuk merawat mata sebaiknya disadari setiap orang.

    Seperti halnya fungsi kamera, mata dapat melihat dengan tajam apabila pancaran cahaya dari suatu obyek jatuh tepat di titik fokus saraf mata atau yang kita kenal sebagai retina. Bagian mata yang disebut pupil akan berfungsi sebagai “jendela” mengatur jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata, yang kemudian difokuskan oleh lensa kristalin dan diteruskan ke sentral penglihatan di retina. Apabila pancaran cahaya tidak jatuh tepat di retina maka bayangan obyek akan menjadi kabur. Kondisi ini yang kita sebut sebagai kelainan refraksi.

    Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kelainan refraksi terjadi pada sebagian besar populasi di seluruh dunia, tanpa memandang usia, jenis kelamin dan etnik. Dari data WHO juga dikatakan bahwa angka kelainan refraksi di Indonesia sebesar 22,1 persen dan 10 persen dari anak usia sekolah (5-19 tahun) menderita kelainan refraksi. Selain itu, angka pemakaian kacamata koreksi sampai saat ini masih rendah yaitu hanya 12,5 persen dari kebutuhan.

    Kelainan refraksi pada mata dapat menggangu aktifitas kehidupan sehari-hari. Kelainan refraksi mata biasanya ditandai dengan keluhan mata sering berair lebih dari biasanya, mengalami sakit kepala, mata perih dan rasa cepat lelah ketika melihat obyek. Kelainan refraksi mata hanya dapat diatasi atau disempurnakan penglihatannya dengan menggunakan kacamata untuk memperjelas penglihatan.

    Salah satu pemerhati anak yang juga psikolog yang lebih dikenal dengan Kak Seto pernah mengungkapkan bahwa, adalah hak setiap anak untuk mengembangkan kemampuan atau talentanya secara maksimal. Tapi pada kenyataannya hal ini tidak selalu berjalan dengan baik karena ada beberapa faktor yang mengganggu. Salah satunya adalah masalah gangguan penglihatan dalam aktifitas belajar. Menurut Kak Seto, sangat disayangkan bila gangguan penglihatan menghambat proses belajar dan penyerapan informasi serta hambatan bersosialisasi sehingga anak tidak akan dapat berkembang dengan optimal. Apalagi ketidaktahuan ditambah kondisi ekonomi orangtua membuat mereka kurang peka terhadap kesehatan mata anak-anaknya.

    Menteri Kesehatan (Menkes) dalam salah satu kesempatan kunjungan lapangan juga pernah menasehati murid Sekolah Dasar agar lebih memperhatikan pencahayaan ruangan, jangan membaca buku dalam pencahayaan ruangan yang redup atau kurang terang.