Sampah Informasi

    221

    Siapa yang menguasai informasi, akan menguasai dunia. Adalah seorang futurolog bernama Alfin Toffler yang menyampaikan kekuatan informasi dalam bukunya “The Third Wave” (Gelombang Ketiga).

    Dahulu, di masa yang tidak terlalu jauh dari saat ini, ‘kekurangan’ informasi merupakan sesuatu yang ‘biasa’ atau tidak dirasakan sebagai sebuah kekurangan, segala sesuatu berjalan dengan ’normal’ untuk ukuran saat itu dan menjadi ‘sangat lambat’ bila dilihat dari kacamata saat ini. Sebuah realita relatif yang juga akan menempatkan segala sesuatu saat ini, menjadi sangat lambat atau kadaluwarsa di masa mendatang.

    Sebagian dari kita masih menyimpan banyak foto album tercetak yang merekam momen yang kita abadikan yang merupakan ringkasan pengalaman di masa lampau. Atau mungkin masih ingat menulis surat pertemanan menggunakan surat pos, yang lebih dikenal dengan ‘pen pal’. Dimana surat dikirimkan melalui jasa kantor pos, untuk disampaikan ke alamat tujuan; Kemudian dibalas lagi dengan cara yang sama. Sebuah proses yang dapat memakan waktu berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan. Atau mungkin kita masih ingat saat mengirimkan dokumen atau gambar menggunakan faksimili yang saat itu dianggap sebagai sebuah kemajuan.

    Semua ini kemudian berubah sejak era internet dimulai. Mengirimkan surat melalui kantor pos sudah tergantikan oleh surat elektronik yang membuat waktu dan jarak menjadi tidak relevan lagi. Berita di belahan dunia lain, dapat diketahui oleh siapapun dan dimanapun pada saat yang bersamaan, koran cetak menjadi kadaluwarsa karena keterbatasan yang dimilikinya. Hari ini foto-foto yang kita ambil, lebih dominan kita simpan secara digital baik di smartphone maupun di cloud (media sosial, cloud storage dan sebagainya); Dengan menggunakan preferensi yang kita tetapkan, foto-foto tersebut dapat diperlihatkan atau dibagikan secara bersamaan kepada banyak orang tanpa dibatasi oleh letak geografis ataupun waktu, semua terjadi dalam hitungan detik saja.

    Internet merubah cara kita berinteraksi, cara kita belajar, cara kita berpikir, dan cara kita hidup dengan sangat cepat. Internet merubah dunia secara keseluruhan, sebuah contoh disruptive innovation yang membuat kita berada di posisi sekarang ini, sebuah proses yang tidak bisa dihindari oleh siapapun, apakah dia aktif terlibat ataupun tidak. Saya pernah membaca bahwa kemajuan teknologi 5 tahun ke depan akan melampaui apa yang sudah terjadi di 50 tahun sebelumnya, sebuah prediksi yang menarik sekaligus menakutkan.

    Mendapatkan informasi terkait apapun dapat dilakukan dengan mudah dan cepat saat ini. Segala jenis informasi mengalir layaknya tsunami, dan hanya memerlukan sedikit usaha untuk mendapatkannya. Hal ini harus kita sadari berpotensi menjadi sesuatu yang berbahaya, seperti memberikan pisau kepada seorang anak kecil. Dibutuhkan kemampuan serta kemauan untuk mau menyaring informasi ini untuk dapat kita gunakan atau manfaatkan dengan baik. Tanpa melakukan ini, saya yakin akan banyak sekali sampah informasi yang ikut mengalir, yang membuat informasi yang kita dapatkan menjadi jauh lebih berkurang relevansinya. Kalau sudah begini, bisa jadi informasi yang berlebih tidak akan membuat kita menjadi lebih tahu.

    Perlu sama-sama mengingat, bahwa segala sesuatu yang masuk ke internet, akan meninggalkan jejak digital yang tidak akan bisa dihapus, termasuk sampah informasi pun akan selamanya ada dan tidak bisa diurai. Bila informasi yang ada saat ini sudah sedemikian massivenya, kita tidak dapat membayangkan seberapa besarnya berbagai informasi yang terekam di internet, di tahun-tahun mendatang.

    Mari kita mulai bertindak untuk dapat dengan bijaksana menyaring informasi yang masuk dan keluar. Tidak susah untuk melakukan ini selama ada keinginan, jangan sampai kita mengalami kekurangan informasi akibat kegagalan di dalam menyikapi ini. Dan mari menjadi pengguna internet yang bertanggung jawab, tidak terlibat di dalam menyebarkan berbagai sampah informasi.

    “Buanglah sampah pada tempatnya”

    -FL