Kenapa Korban Kecelakaan Bermotor Tinggi Sekali?

    164
    Ilustrasi kecelakaan

    “Siapa yang paling banyak menjadi korban kecelakaan lalu-lintas?”
    Anak muda atau remaja, ini jawaban yang mudah ditebak.

    Logika sederhananya remaja adalah kelompok yang baru belajar mengendarai motor atau mobil. Tapi harusnya orang yang baru belajar mengendarai kendaraan bermotor lebih berhati-hati, bukan begitu?

    Di bawah ini adalah data tentang kecelakaan bermotor di Indonesia:

    Data dari Bulan Mei – Juli 2017, Sumber: Kepolisian RI

    Dari data tersebut di atas terlihat bahwa kelompok terbesar yang mengalami kecelakaan lalu-lintas ada 2 kelompok:
    – Umur 15 – 19 tahun (meninggal: 535, luka berat: 400, luka ringan: 3.500 korban)
    – Umur 20 – 24 tahun (meninggal: 533, luka berat: 375, luka ringan: 3.000 korban)

    Hanya dalam 3 bulan, jumlah kecelakaan kedua kelompok itu masing-masing sudah mencapai lebih dari 4000an kasus. Jumlah kasus kecelakaan masing-masing di atas sudah lebih dari 2 kali lipat kelompok lain. Angka ini sudah sangat mengkhawatirkan.

    Bukan hal langka yang bisa terlihat di sekitar kita, bahwa ada banyak pemandangan remaja di bawah umur mengendarai motor. Seringkali ngebut naik motor dan tanpa helm atau jaket. Kondisi ini banyak ditemui terutama di wilayah pemukiman kota atau desa. Banyak yang masih mengenakan seragam sekolah. Mayoritas mereka pasti belum punya Surat Izin Mengemudi, apalagi yang masih memakai seragam SD atau SMP.

    Kondisi ini terjadi karena beberapa penyebab, antara lain:
    – Terjadi peningkatan status ekonomi rakyat dalam 10 tahun terakhir yang meningkatkan daya beli kendaraan bermotor.
    – Motor lebih praktis dan relatif murah daripada kendaraan umum yang jalurnya terbatas.
    – Tren yang terjadi di sekolah, terutama untuk pelajar pria.

    Siapapun paham bahwa mengendarai kendaraan di bawah umur sangat berbahaya karena koordinasi pikiran dan gerakan belum stabil serta emosi belum matang sehingga mudah terpengaruh untuk kebut-kebutan. Dampak lanjutan dari banyaknya pengendara motor remaja adalah terbentuknya geng motor. Awalnya dimulai dari seringnya nongkrong tanpa kegiatan produktif, kemudian mulai adu kebut yang rentan gesekan dengan kelompok lain. Kegiatan ini akhirnya sering berujung pada perkelahian atau perbuatan kriminal lain.

    Sementara itu di beberapa kawasan elit perkotaan, juga banyak anak remaja yang mengendarai mobil tanpa SIM. Kondisinya mirip, kebut-kebutan hingga kecelakaan yang membawa korban.

    Apa kerugian lain dari banyaknya kasus kecelakaan lalu lintas ini?
    Banyak orang tak berdosa yang ikut jadi korban tertabrak atau tersenggol. Sudah pasti kerugian moral – material dari orang tua dan korban lain.

    Pelanggaran batas umur membawa kendaraan sudah menjadi budaya. Selain remaja sebagai pelaku faktor penting lain adalah sikap permisif dari phak berwenang dan masyarakat sendiri, padahal sudah jelas melanggar hukum.

    Bagaimana cara mengatasi hal ini? Tindakan tegas dari petugas kepolisian dan juga kesadaran orang tua untuk mematuhi aturan batas umur berkendara untuk anaknya akan sangat membantu. Kabar baiknya ada beberapa kepala daerah yang sudah dengan tegas melarang remaja di bawah umur membawa kendaraan bermotor. Tapi lebih banyak yang belum peduli soal ini.

    Sayang sekali kalau sampai nyawa melayang gara-gara hal sepele yang seharusnya bisa dihindari.