Ritual Lodong di Purbalingga

106
sumber gambar: google

Penduduk Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga mempunyai tradisi unik yang diselenggarakan setiap tahunnya pada Bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Tradisi “Ritual Lodong” ini adalah sebuah tradisi penghormatan terhadap sebuah “Tuk” atau sumber air yang bernama “Si Kopyah”, yang terletak di kaki Gunung Slamet.

Pagi hari, memulai perayaan itu, biasanya para ibu bersama para remaja putri dan pemuda di desa itu didoakan oleh sesepuh desa. Mereka membawa lodong, yaitu tempat air terbuat dari bambu. Uniknya, jumlah lodong yang mereka bawa itu adalah sebanyak 777 buah. Jumlah itu dalam Bahasa Jawa “pitungatus pitupuluh pitu”, memiliki makna “pitulungan” atau pertolongan. Intinya adalah bahwa mereka meminta pertolongan kepada Gusti Yang Maha Esa bagi keselamatan dan kesejahteraan mereka.

Iring-iringan pembawa 777 lodong itu menuju ke sebuah sumber air bernama Tuk Si Kopyah yang jaraknya lebih kurang 2 kilometer dari desa tempat mereka tinggal. Mereka mengambil air di sana dan mengisi ke 777 lodong yang mereka bawa. Selesai mengisi ke 777 lodong tersebut, mereka kembali ke desa dan menyemayamkan lodong-lodong tersebut di balai desa selama 3 hari.

Iring-iringan pembawa lodong tersebut biasanya diikuti oleh ratusan warga sambil membawa Nasi Penggel, yaitu nasi jagung yang disertai 3 jenis lauk dan sayur berupa ikan asin, tempe goreng dan oseng pepaya. Tidak berhenti sampai di situ, setelah prosesi Ritual Lodong itu selesai, mereka berkumpul di balai desa sambil menikmati santap makan bersama. Tidak hanya penduduk desa saja, sejumlah wisatawan yang datang kesana pun turut menikmatinya dan berbaur dalam kegembiraan bersama.

Tuk Si Kopyah merupakan sumber mata air yang memberikan kehidupan bagi warga sekitarnya yang sebagian besar bekerja sebagai petani sayur-mayur. Air itu tidak kering sepanjang musim, mengaliri Desa Serang dan desa-desa lain di sekitar kaki Gunung Slamet. Kini kearifan lokal tersebut bukan hanya dilestarikan oleh warga setempat, melainkan juga dijadikan sajian budaya utama dalam Festival Gunung Slamet oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Purbalingga.

Semoga kearifan lokal yang sudah menjadi perhatian pemerintah daerah ini terus dijaga kelestariannya dan ditingkatkan kualitas penyelenggaraannya. Dengan demikian akan mengundang lebih banyak lagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang berdatangan. Ini juga bisa menjadi contoh yang baik bagi daerah-daerah lainnya dalam meningkatkan pariwisata Nusantara.

 

(bht – dari berbagai sumber)