Siapa Bilang Mudah Mencari Kerja di Jakarta?

    104
    sumber: google

    Banyak orang mengira bahwa Jakarta adalah magnet lapangan pekerjaan. Predikat sebagai ibukota negara dan juga kota terbesar di Indonesia seharusnya membuat Jakarta memiliki peluang kerja yang banyak juga. Selain pusat pemerintahan, Jakarta juga menjadi pusat perekonomian nasional. Mayoritas perusahaan mancanegara yang beroperasi di Indonesia membuka kantor di Jakarta. Belum lagi kantor milik industri nasional sendiri. Tinggal sebut saja pusat perbelanjaan terbanyak, hiburan, jasa, pusat layanan kesehatan dan seterusnya.

    Tapi tidak demikian faktanya, menurut data BPS Jakarta memiliki persentase pengangguran terbuka di atas rata-rata nasional. Lihat saja grafik di bawah ini:

    Tingkat pengangguran terbuka DKI Jakarta

    Angka pengangguran terbuka di Jakarta mencapai 7,2%, posisi itu di atas angka rata-rata nasional. Yang dimaksud pengangguran terbuka adalah penduduk usia produktif yang tidak bekerja sama sekali. Meskipun turun persentasenya, Jakarta menempati posisi ke-9 provinsi yang memiliki pengangguran terbanyak di Indonesia. Terpaut 1 tingkat di bawah Kalimantan Timur. Jumlah penganggur terbuka di Jakarta kurang lebih 300.000 orang (pria dan wanita).

    Jumlah penduduk usia kerja

    Apa penyebab tingginya jumlah pengangguran ini?

    Penyebab pertama adalah pendidikan yang kurang memadai. Lulusan SLTA ke bawah tentunya belum mempunyai standar kemampuan yang dibutuhkan industri. Lulusan universitas juga belum tentu bisa langsung menerapkan ilmunya di tempat kerja. Banyak informasi lapangan yang menyatakan bahwa beberapa ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi lokal dan sekolah kejuruan ternyata sudah tidak cocok dengan kondisi lapangan. Kebutuhan industri juga belum setara dengan lulusan yang tersedia. Contoh: beberapa tahun terakhir banyak sekali kebutuhan akan tenaga Teknologi Informasi, sedangkan lulusannya sedikit sekali.

    Faktor lain adalah keterampilan yang juga di bawah standar industri. Hanya perguruan tinggi favorit yang sering bekerja sama dengan kalangan industri mengerti keterampilan apa yang sangat dibutuhkan. Mulai dari hari pertama di tempat kerja, keterampilan ini harus sudah bisa diterapkan.

    Lalu hal apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi ke-2 hal ini? Magang.

    Magang adalah kesempatan penting yang harus dimanfaatkan serius. Pada saat magang, seorang staf magang harus aktif dan rajin. Mulai pagi hari setiap staf magang sebaiknya membuat pertanyaan mulai dari proyek yang ditangani, lalu catat jawabannya. Kemudian di waktu senggang usahakan amati dan berinteraksi dengan divisi lain, cari tahu apa yang dilakukan, catat. Jalin komunikasi dengan banyak staf lain untuk mengetahui alur kerja perusahaan. Staf magang yang rajin, aktif dan tidak ragu membantu orang lain biasanya mudah diterima oleh team di kantor. Tentu saja harus bisa membaca situasi sehingga tidak mengganggu pekerjaan orang lain. Selain belajar tentang hal teknis sehari-hari, penting sekali belajar komunikasi, interaksi dan cara menyelesaikan masalah.

    Aktif, amati dan catat. Minimal setelah 3 bulan, pengetahuan dan keterampilan staf magang akan bertambah banyak. Bukan hanya menjadi anak bawang.