Bahaya, korban kecelakaan bermotor tinggi sekali

“Siapa yang paling banyak menjadi korban kecelakaan lalu lintas?”  Anak muda. Ini jawaban yang mudah ditebak.

Logika sederhananya remaja adalah kelompok yang baru belajar mengendarai motor atau mobil. Tapi di sisi lain orang yang baru belajar mengendarai kendaraan bermotor biasanya lebih berhati-hati, bukan begitu?

Coba lihat di bawah ini ada data tentang kecelakaan bermotor di Indonesia:

Dari data di atas terlihat bahwa kelompok terbesar yang mengalami kecelakaan lalu lintas, terjadi di 2 kelompok umur:

  • Umur 15 – 19 tahun (meninggal: 535, luka berat: 400, luka ringan: 3.500 korban)
  • Umur 20 – 24 tahun (meninggal: 533, luka berat: 375, luka ringan: 3.000 korban)

Hanya dalam 3 bulan, jumlah kecelakaan kedua kelompok itu masing-masing sudah mencapai lebih dari 4000an kasus. Kalau dibandingkan, jumlah korban kecelakaan anak muda atau remaja sudah lebih dari 2 kali lipat kelompok umur lain. Angka ini jelas sangat mengkhawatirkan.

Bukan hal aneh yang terlihat di sekitar kita, bahwa banyak pemandangan remaja di bawah umur mengendarai motor. Seringkali naik motornya ngebut, tanpa helm atau jaket merasa lebih keren. Kejadian ini sering ditemui terutama di wilayah pemukiman kota atau desa. Banyak pula yang masih memakai seragam sekolah. Mayoritas mereka ini pasti belum punya Surat Izin Mengemudi, apalagi yang masih memakai seragam SD atau SMP.

Ini bisa terjadi karena beberapa penyebab, antara lain:

  • Peningkatan status ekonomi orang Indonesia dalam 10 tahun terakhir yang menambah daya beli kendaraan bermotor.
  • Motor lebih praktis dan relatif murah daripada kendaraan umum yang jalurnya terbatas.
  • Menjadi tren di sekolah, terutama untuk pelajar pria.

Siapapun paham bahwa mengendarai kendaraan di bawah umur sangat berbahaya karena koordinasi pikiran dan gerakan belum stabil, emosi juga belum matang sehingga mudah terpengaruh untuk terpancing kebut-kebutan. Lalu dampak lanjutan dari kebut-kebutan remaja yaitu munculnya geng motor. Awalnya dimulai dari seringnya nongkrong tanpa kegiatan produktif, kemudian mulai lomba ngebut yang rentan gesekan dengan geng lain. Kegiatan ini akhirnya sering berujung pada perkelahian atau perbuatan kriminal lain.

Sementara itu di beberapa kawasan elit perkotaan, juga banyak anak remaja yang mengendarai mobil tanpa SIM. Kondisinya mirip, kebut-kebutan hingga kecelakaan yang membawa korban.

Apa kerugian lain dari banyaknya kasus kecelakaan lalu lintas ini? Banyak orang tak berdosa yang ikut jadi korban tertabrak atau tersenggol. Sudah pasti kerugian moral – material dari orang tua dan korban lain.

Pelanggaran batas umur membawa kendaraan sudah jadi budaya. Selain remaja sebagai pelaku, faktor penting lain tentunya sikap permisif dari phak berwenang dan masyarakat sendiri, padahal sudah jelas melanggar hukum.

Bagaimana cara mengatasi hal ini? Harus ada tindakan tegas dari petugas berwenang dan juga kesadaran orang tua untuk mematuhi aturan batas umur berkendara untuk anaknya. Kabar baiknya sudah ada beberapa kepala daerah yang dengan tegas melarang remaja di bawah umur membawa kendaraan bermotor, sampai diberikan sanksi. Tapi jumlahnya masih sedikit yang peduli soal ini.

Sayang sekali kalau sampai nyawa melayang gara-gara hal sepele yang seharusnya bisa dihindari.