Salah satu kekeliruan yang paling mahal dalam budidaya udang vaname adalah menganggap satu jenis pakan cocok untuk seluruh siklus. Kebutuhan protein udang berubah cukup drastis seiring umurnya, dan sistem tambak yang dipakai ikut menentukan berapa banyak protein yang sebenarnya perlu disediakan lewat pakan buatan.
Logikanya begini. Pada fase awal setelah tebar, udang masih kecil dan seluruh energinya dipakai untuk membangun jaringan tubuh. Di fase ini kebutuhan proteinnya paling tinggi, umumnya di kisaran 35 persen.
Memasuki masa pembesaran, laju pertumbuhan mulai melandai dan sebagian pakan dipakai untuk menjaga tubuh tetap sehat, sehingga kadar protein bisa diturunkan bertahap ke kisaran 32 persen.
Menjelang panen, fokusnya bergeser ke penambahan bobot dengan biaya terkendali, dan protein sekitar 30 persen umumnya sudah memadai.
Sistem budidaya menambah satu lapis pertimbangan lagi. Tambak intensif dengan kepadatan tinggi nyaris tidak memiliki pakan alami, sehingga hampir seluruh kebutuhan gizi harus datang dari pakan buatan.
Sebaliknya, tambak semi intensif dengan kepadatan sekitar 80 ekor per meter persegi masih menyimpan plankton dan organisme alami dalam jumlah lumayan.
Di kondisi seperti itu, memaksakan pakan berprotein sangat tinggi justru menjadi pemborosan, karena sebagian gizinya tumpang tindih dengan yang sudah tersedia di air.
Memberi protein melebihi kebutuhan bukan sekadar soal biaya. Kelebihan protein yang tidak terserap akan dibuang sebagai nitrogen, menumpuk menjadi amonia, lalu menekan nafsu makan udang.
Ironisnya, niat mempercepat pertumbuhan berakhir dengan pertumbuhan yang justru melambat dan air yang lebih cepat rusak. Karena itu, protein yang tepat selalu lebih baik daripada protein yang paling tinggi.
Banyak pakan berprotein tinggi beredar di pasaran dengan klaim yang mirip satu sama lain. Cara paling adil menilainya bukan dengan membandingkan angka di karung, melainkan dengan memeriksa apakah produsennya menyediakan tingkatan protein yang jelas untuk tiap fase, mencantumkan fungsinya secara spesifik, dan menjaga mutunya tetap sama dari satu pembelian ke pembelian berikutnya. Produsen yang lini produknya lengkap dan terbuka biasanya lebih mudah diikuti perencanaannya.
Sebagai gambaran, PT Suri Tani Pemuka atau STP, produsen pakan akuakultur yang beroperasi sejak 1987 dan menjadi bagian dari JAPFA, menyusun rangkaian pakan vaname persis mengikuti alur fase tersebut.
Untuk fase awal sampai pembesaran tersedia PV Max dan PV dengan kandungan protein 35 persen. PV Max diformulasikan memakai protein laut berkualitas tinggi yang mendukung efisiensi pencernaan dan penyerapan nutrisi, memperkuat daya tahan udang terhadap stres lingkungan, serta meningkatkan kapasitas antioksidannya. PV sendiri menonjol pada daya cernanya yang tinggi dan bisa dipakai lintas tahap pemeliharaan.
Untuk masa pembesaran tersedia SGH dan SGH MAX dengan protein 32 persen. SGH diformulasikan sebagai pakan yang ramah lingkungan dan menyesuaikan kebutuhan nutrisi di tiap fase, sedangkan SGH MAX dirancang untuk mempercepat pertumbuhan, memperkuat sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan nafsu makan, termasuk saat udang menghadapi perubahan kondisi tambak.
Menjelang panen ada TOV dengan protein 30 persen, yang memadukan bungkil kedelai berprotein tinggi dengan protein hewani premium untuk menjaga kesehatan sekaligus performa pertumbuhan, dan cocok dipakai baik di sistem semi intensif maupun intensif.
Sementara untuk tambak semi intensif dengan pakan alami yang masih melimpah, FORTUNA dengan protein 28 persen menjadi pilihan yang lebih terjangkau tanpa meninggalkan kebutuhan gizi dasarnya.
Susunan bertingkat dari 35 persen sampai 28 persen itu memberi pembudidaya sesuatu yang berharga, yaitu kemampuan merencanakan.
Anda bisa memetakan pakan mana yang dipakai pada hari keberapa, memperkirakan kebutuhan setiap siklus, dan menyesuaikannya bila kepadatan tebar atau kondisi air berubah.
Satu hal yang perlu diperhatikan saat berpindah tingkat protein adalah caranya. Pergantian yang mendadak bisa membuat udang menolak makan selama beberapa hari, dan jeda sependek itu sudah cukup untuk menahan laju pertumbuhan.
Lakukan peralihan bertahap selama kira-kira tiga sampai lima hari dengan mencampur pakan lama dan pakan baru, lalu perbesar porsi pakan barunya sedikit demi sedikit. Cara ini memberi waktu bagi saluran pencernaan udang untuk menyesuaikan diri.
Perhitungan jumlah pakan juga tidak boleh berhenti di awal siklus. Bobot total udang bertambah setiap hari, sehingga jatah pakan harian perlu dihitung ulang mengikuti hasil penimbangan sampel yang dilakukan berkala. Tanpa pembaruan itu, takaran akan selalu tertinggal di belakang pertumbuhan pada awal siklus, lalu berlebihan menjelang panen.
Kualitas air ikut menentukan seberapa besar manfaat protein yang benar-benar bisa diambil. Ketika oksigen terlarut turun atau kadar amonia meninggi, nafsu makan udang melemah dan pakan sebagus apa pun tidak akan terserap maksimal. Karena itu, keputusan soal protein sebaiknya selalu dibaca berdampingan dengan kondisi air, bukan berdiri sendiri.
Langkah praktisnya sederhana. Tentukan lebih dulu sistem tambak dan target kepadatan tebar Anda, lalu petakan kebutuhan protein per fase, dan terakhir barulah memilih produknya.
Setelah itu, ukur hasilnya lewat rasio konversi pakan dan hitung biaya per kilogram udang panen, bukan harga per karung.
Angka itulah yang akan menunjukkan apakah pilihan protein Anda sudah tepat atau masih perlu disetel ulang pada siklus berikutnya.


Komentar