Krisis Psikologis Gen Z
Beranda » Blog » Generasi yang Lelah Terlalu Cepat: Mengurai Krisis Psikologis Gen Z

Generasi yang Lelah Terlalu Cepat: Mengurai Krisis Psikologis Gen Z

HALO NUSANTARA – Dalam beberapa tahun terakhir, istilah generasi yang lelah terlalu cepat semakin sering terdengar ketika membahas Gen Z. Istilah ini bukan sekadar gambaran puitis, melainkan cerminan nyata dari kondisi psikologis anak muda yang hidup di era percepatan ekstrem. Gen Z tumbuh di tengah teknologi yang berkembang super cepat, informasi yang tak ada habisnya, ekspektasi sosial yang semakin tinggi, serta kompetisi global yang terasa sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. Semua faktor ini membuat mereka mengalami kelelahan mental lebih dini dibanding generasi sebelumnya.

Salah satu penyebab terbesar kelelahan tersebut berasal dari media sosial. Meski platform digital memberi ruang kreatif dan kesempatan membangun jejaring, ia juga membawa efek samping yang tidak bisa diabaikan. Perbandingan sosial kini terjadi setiap detik. Dalam satu guliran layar, mereka dapat melihat pencapaian orang lain yang tampak sempurna, dan tanpa sadar membandingkannya dengan hidup sendiri yang terasa berantakan. Tekanan untuk selalu tampil menarik, produktif, dan sukses akhirnya menciptakan kecemasan yang menggerogoti dari dalam. Menurut pandangan saya, media sosial adalah ruang dua sisi, ia membantu, tetapi juga menyakitkan jika kita tidak memiliki kontrol emosional yang kuat.

Faktor sosial ekonomi juga memainkan peran besar. Banyak anak muda yang merasa masa depan semakin sulit dijangkau. Harga rumah makin tak masuk akal, persaingan kerja kian ketat, dan biaya pendidikan terus meroket. Dunia mengharuskan mereka “sukses di usia muda”, padahal kenyataannya dunia itu sendiri tidak menyediakan jalan yang stabil untuk mencapainya. Ketidakpastian ini menumpuk dan membentuk beban mental yang membuat mereka mudah lelah, bahkan sebelum sempat memulai perjalanan hidup dewasa.

Pandemi COVID-19 memperparah keadaan. Bagi Gen Z, masa-masa yang seharusnya diisi dengan eksplorasi diri justru berubah menjadi periode isolasi panjang. Pendidikan terhenti, interaksi sosial tersendat, dan rutinitas hilang. Dampaknya tidak hanya sementara, bagi banyak anak muda, tekanan psikologis dari masa itu masih terbawa hingga sekarang. Saya melihat pandemi bukan sekadar krisis kesehatan, melainkan titik balik yang memperlihatkan rapuhnya sistem pendukung mental bagi generasi ini.

Namun, di balik semua kelelahan itu, saya percaya Gen Z bukan generasi yang lemah. Mereka hanya hidup dalam kondisi yang jauh lebih kompleks. Mereka adalah generasi yang lebih sadar emosi, lebih terbuka membicarakan kesehatan mental, dan lebih kritis terhadap struktur sosial yang tidak adil. Yang mereka butuhkan bukan penghakiman, melainkan dukungan nyata layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau, kebijakan sosial ekonomi yang berpihak kepada anak muda, serta literasi digital yang membantu mereka menavigasi dunia maya tanpa kehilangan diri sendiri.

Cara Menulis Sholat yang Benar: Panduan Lengkap untuk Pemula

Pada akhirnya, menyebut Gen Z sebagai generasi yang lelah terlalu cepat adalah sebuah sinyal bahaya yang harus kita tanggapi bersama. Jika kita ingin melihat mereka tumbuh menjadi generasi yang kuat, kreatif, dan resilien, kita harus menciptakan lingkungan yang tidak membuat mereka kelelahan sebelum berkembang. Mereka bukan sedang menyerah; mereka sedang berjuang dalam dunia yang terlalu bising. Dan tugas kitalah untuk membuat dunia itu sedikit lebih tenang.

DAFTAR PUSTAKA

Maslihah, S. 2021. Self-esteem dan kecenderungan depresi pada remaja pengguna media sosial. Jurnal Ilmiah Psikologi. Vol. 8(3): 211-220.

Yuliyana, S., dan Nurhidayah, I. 2020. Hubungan intensitas penggunaan media sosial dengan kecemasan sosial pada remaja. Jurnal Psikologi Malahayati. Vol. 2(1): 12-20.

Penulis: Fathulloh Azhar Purnama- Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Menikmati Dunia Komik Digital Lebih Nyaman Bersama Komik8.online

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *