Beranda » Blog » Karakteristik Utama Tafsir Bi Al-Ma’tsur dalam Ilmu Tafsir Al-Qur’an

Karakteristik Utama Tafsir Bi Al-Ma’tsur dalam Ilmu Tafsir Al-Qur’an

Tafsir bi al-Ma’tsur adalah salah satu metode utama dalam ilmu tafsir al-Qur’an yang berfokus pada penggunaan sumber-sumber yang telah ditransmisikan secara turun-temurun, seperti ayat-ayat al-Qur’an sendiri, hadis Nabi Muhammad saw, perkataan para sahabat, dan pendapat para tabi’in. Metode ini memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari pendekatan lain dalam menafsirkan al-Qur’an. Dalam artikel ini, kita akan menjelaskan secara rinci mengenai karakteristik utama tafsir bi al-Ma’tsur serta pentingnya metode ini dalam memahami kitab suci al-Qur’an.

Pengertian dan Latar Belakang Tafsir Bi Al-Ma’tsur

Tafsir bi al-Ma’tsur merujuk pada penafsiran al-Qur’an yang didasarkan pada informasi yang diperoleh melalui periwayatan, yaitu penjelasan yang berasal dari ayat al-Qur’an itu sendiri, hadis Rasulullah saw, atau riwayat dari para sahabat dan tabi’in. Pendekatan ini dianggap sebagai cara paling aman dan terpercaya dalam menafsirkan al-Qur’an karena didasarkan pada sumber-sumber yang telah diverifikasi dan disepakati oleh ulama sejak zaman awal Islam.

Menurut definisi Ibn Taymiyyah, tafsir bi al-Ma’tsur adalah “penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang dibuat menggunakan penjelasan dari ayat al-Qur’an, hadith-hadith rasul saw yang sahih dan riwayat para sahabat r.anhum (athar) atau dengan sesuatu yang dikatakan oleh tabiin besar kerana mereka menerima perkara tersebut daripada sahabat.” Ini menunjukkan bahwa tafsir bi al-Ma’tsur tidak hanya terbatas pada ayat al-Qur’an, tetapi juga mencakup pandangan dan penjelasan dari para sahabat dan tabi’in yang dianggap valid dan dapat dipercaya.

Perkembangan Tafsir Bi Al-Ma’tsur

Perkembangan tafsir bi al-Ma’tsur dapat dibagi menjadi lima tahap utama:

  1. Secara Lisan atau Periwayatan: Pada masa sahabat dan permulaan zaman tabi’in, para sahabat mengambil penafsiran dari Rasulullah saw atau meriwayatkan daripada sahabat. Penafsiran ini dilakukan secara lisan dan bersifat oral, dengan penekanan pada keandalan sanad dan kredibilitas sumber.

    Doa Mandi Wajib Pria Arti Niat Tata Cara Benar

  2. Secara Penulisan Bersama dengan Hadith: Pada tahap ini, riwayat-riwayat tafsir dicatat dalam kitab-kitab hadith seperti Sahih al-Bukhari. Para mufassir seperti Mujahid, Said bin Jubayr, Qatadah, dan lainnya mencatat tafsiran guru mereka, seperti Ibn Abbas, dan menyebutkan pendapat-pendapat yang diterima dari sahabat dan tabi’in.

  3. Penulisan Tafsir Bil Ma’thur dengan Jalur Sanad Terasing dari Hadith: Pada kurun ke-2 dan ke-3 Hijrah, tafsir bi al-Ma’tsur mulai ditulis secara terpisah dari hadith. Contoh karya yang termasuk dalam kategori ini adalah Sahifah Ali bin Abi Talhah, Tafsir Sufyan bin Said al-Thawri, dan Tafsir Abd al-Razzaq bin Hammam al-San’ani.

  4. Penulisan Tafsir Secara Lengkap Beserta dengan Sanad yang Bersambung: Pada abad ke-4 Hijriyah, tafsir bi al-Ma’tsur berkembang menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Para mufassir seperti Ibnu Jarir al-Tabari dan Ibn Kathir mengumpulkan riwayat-riwayat tafsir dari hadith, kata-kata sahabat, dan pendapat tabi’in.

  5. Pengguguran Sanad dari Tafsir Bil Ma’thur: Pada akhir abad ke-4 Hijriyah, banyak mufassir mulai menggugurkan sanad dari tafsir mereka untuk memudahkan pembaca. Hal ini menyebabkan sulitnya menilai kredibilitas riwayat, sehingga beberapa tafsir menjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Karakteristik Utama Tafsir Bi Al-Ma’tsur

Berikut adalah karakteristik utama dari tafsir bi al-Ma’tsur:

Doa Masuk Masjid dalam Bahasa Arab dan Latin

1. Mengandalkan Sumber yang Sahih dan Terpercaya

Tafsir bi al-Ma’tsur selalu berpegang pada sumber-sumber yang telah diverifikasi dan diterima secara luas oleh para ulama. Sumber-sumber ini termasuk ayat al-Qur’an, hadith Nabi saw yang sahih, perkataan para sahabat, dan pendapat para tabi’in yang dianggap valid. Kredibilitas sumber ini menjadi dasar utama dalam menentukan kebenaran tafsiran.

2. Memperhatikan Sanad dan Riwayat

Salah satu ciri khas dari tafsir bi al-Ma’tsur adalah adanya penekanan pada sanad dan riwayat. Setiap penafsiran harus disertai dengan sumber yang jelas, baik itu dari Nabi saw, sahabat, atau tabi’in. Sanad yang kuat dan terjamin keandalannya sangat penting untuk memastikan bahwa tafsiran tidak mengandung kesalahan atau bias.

3. Menghindari Ijtihad yang Tidak Berdasar

Tafsir bi al-Ma’tsur cenderung menghindari ijtihad yang tidak didasarkan pada sumber-sumber yang sahih. Pendekatan ini lebih menekankan pada penggunaan riwayat dan penjelasan yang sudah ada, bukan pada interpretasi subjektif atau spekulatif. Hal ini bertujuan untuk menghindari kesalahan pemahaman dan menjaga integritas ajaran al-Qur’an.

4. Menggunakan Pendekatan Historis dan Kontekstual

Tafsir bi al-Ma’tsur sering kali mempertimbangkan konteks sejarah dan situasi saat ayat-ayat al-Qur’an diturunkan. Hal ini mencakup asbab al-nuzul (sebab turunnya ayat), nasikh dan mansukh (hukum yang dihapus atau diganti), serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Nabi saw. Pendekatan ini membantu memahami makna ayat secara lebih mendalam dan relevan dengan konteks waktu dan tempat.

5. Konsisten dan Seragam

Karena tafsir bi al-Ma’tsur didasarkan pada sumber-sumber yang sama, maka hasil tafsiran cenderung konsisten dan seragam. Meskipun terdapat variasi dalam penyampaian, inti makna ayat tetap sama karena didasarkan pada sumber yang sama. Hal ini berbeda dengan tafsir bi al-ra’yi yang bisa berbeda-beda tergantung pada perspektif dan pendekatan mufassir.

Doa Wudhu: Arti, Fungsi, dan Cara Mengamalkannya dengan Benar

6. Memperhatikan KeberOpinin Pendapat

Meskipun tafsir bi al-Ma’tsur mengandalkan sumber-sumber yang sahih, namun ia juga memperhatikan keberOpinin pendapat yang muncul dari para sahabat dan tabi’in. Dengan demikian, tafsir ini tidak selalu monolitik, tetapi tetap mempertimbangkan berbagai sudut pandang yang valid dan dapat diterima.

7. Menghindari Israiliyyat dan Pandangan yang Gharib

Tafsir bi al-Ma’tsur cenderung menghindari penggunaan israiliyyat (cerita-cerita dari orang-orang Yahudi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan) dan pendapat-pendapat yang dianggap gharib (asing atau tidak umum). Hal ini bertujuan untuk menjaga keaslian dan keabsahan ajaran al-Qur’an.

Pentingnya Tafsir Bi Al-Ma’tsur dalam Menafsirkan Al-Qur’an

Tafsir bi al-Ma’tsur memiliki peran penting dalam memahami al-Qur’an secara benar dan mendalam. Berikut adalah beberapa alasan mengapa tafsir ini sangat penting:

1. Mencegah Kesalahan Pemahaman

Dengan mengandalkan sumber-sumber yang sahih dan terpercaya, tafsir bi al-Ma’tsur membantu mencegah kesalahan pemahaman yang bisa terjadi jika seseorang hanya mengandalkan pendapat pribadi atau ijtihad tanpa dasar yang kuat.

2. Menjaga Integritas Ajaran Al-Qur’an

Tafsir bi al-Ma’tsur menjaga integritas ajaran al-Qur’an dengan memastikan bahwa setiap penafsiran didasarkan pada sumber-sumber yang sudah diverifikasi. Hal ini memastikan bahwa ajaran al-Qur’an tetap dalam bentuk yang asli dan tidak dimodifikasi oleh pandangan pribadi atau kelompok tertentu.

3. Memberikan Perspektif Sejarah dan Budaya

Dengan memperhatikan konteks sejarah dan budaya saat ayat-ayat al-Qur’an diturunkan, tafsir bi al-Ma’tsur memberikan perspektif yang lebih lengkap dan mendalam tentang makna ayat. Ini membantu pembaca memahami bagaimana ajaran al-Qur’an relevan dengan situasi masa lalu dan masa kini.

4. Menyediakan Dasar untuk Tafsir Lain

Tafsir bi al-Ma’tsur menjadi dasar bagi tafsir-tafsir lain yang muncul kemudian. Banyak tafsir yang menggunakan pendekatan bi al-ra’yi (tafsir melalui ijtihad) tetap mengacu pada sumber-sumber yang telah dijelaskan dalam tafsir bi al-Ma’tsur.

Contoh Tafsir Bi Al-Ma’tsur

Beberapa contoh karya tafsir bi al-Ma’tsur yang terkenal antara lain:

  • Tafsir al-Tabari oleh Ibnu Jarir al-Tabari
  • Tafsir Ibn Kathir oleh Ibn Kathir
  • Tafsir al-Durr al-Manthur oleh al-Suyuti
  • Tafsir al-Kashaf oleh al-Zamakhsyari
  • Tafsir al-Bahr al-Muhit oleh Abu Hayyan

Karya-karya ini merupakan contoh nyata dari tafsir bi al-Ma’tsur yang mengandalkan sumber-sumber yang sahih dan terpercaya.

Kesimpulan

Tafsir bi al-Ma’tsur memiliki karakteristik utama yang membedakannya dari pendekatan lain dalam menafsirkan al-Qur’an. Dengan mengandalkan sumber-sumber yang sahih, memperhatikan sanad dan riwayat, serta menghindari ijtihad yang tidak berdasar, tafsir ini menjadi metode yang paling aman dan terpercaya dalam memahami kitab suci al-Qur’an. Selain itu, tafsir bi al-Ma’tsur juga memperhatikan konteks sejarah dan budaya, serta memberikan perspektif yang lebih lengkap dan mendalam tentang makna ayat. Dengan demikian, tafsir bi al-Ma’tsur tetap menjadi dasar utama dalam ilmu tafsir al-Qur’an hingga saat ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *