Beranda » Blog » Lirik Lagu ‘Cintamu Sepahit Topi Miring’ oleh Jogja Hip Hop Foundation: Makna dan Arti Lagu yang Viral

Lirik Lagu ‘Cintamu Sepahit Topi Miring’ oleh Jogja Hip Hop Foundation: Makna dan Arti Lagu yang Viral

Lagu “Cintamu Sepahit Topi Miring” karya Jogja Hip Hop Foundation telah menjadi salah satu lagu yang viral di media sosial, khususnya TikTok. Meskipun dirilis pada tahun 2013, lagu ini kembali menarik perhatian publik dengan lirik yang penuh makna dan nuansa budaya Jawa yang kental. Dalam artikel ini, kita akan mengupas lebih dalam tentang lirik, makna, dan arti dari lagu yang populer ini.

Latar Belakang Lagu

Jogja Hip Hop Foundation adalah sebuah grup musik yang dikenal dengan karya-karyanya yang memadukan aliran hip hop dengan bahasa Jawa. Salah satu karya terkenal mereka adalah “Cintamu Sepahit Topi Miring”. Lagu ini awalnya dirilis pada tahun 2013, tetapi baru-baru ini kembali viral setelah dibagikan oleh banyak pengguna TikTok. Lagu ini memiliki ciri khas dengan lirik yang menggunakan bahasa Jawa, serta irama yang dinamis dan mudah diingat.

Lirik Lagu “Cintamu Sepahit Topi Miring”

Berikut adalah lirik lengkap dari lagu “Cintamu Sepahit Topi Miring”:

(Yen kecemplung, kadhung trima kowe nyampar nyandung)
Sengkuni leda-lede
Mimpin baris ngarep dhewe
Eh barisane menggok
Sengkuni kok malah ndheprok?

Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro

Senja di Desa Baron
Matahari tenggelam di dalam kemaron
Lembu betina lari melompat-lompat
Dikejar-kejar anaknya yang kecil, meloncat
Senja lucu dengan kasih sayang ibu dan anak
Langit senja mengandung sapi beranak
Terpesona Ranto melihat, ia tertawa bergelak
Dan berubah jadi Ranto Gudel, sang pelawak

Dadi Marmoyo, di panggung ketoprak
Ranto Gudel, meminum arak
Terendam di dalam ciu
Birahinya berubah jadi biru
Diajaknya Nyai Dasima bercinta
Dengan cinta sepahit topi miringnya
Layar dibuka, turun hujan gembukan
Dewi Mlenuk gembuk datang

Membawa seguling roti cakwe
Marmoyo rebah, terguling tidur
Di pangkuan Nyai Dasima
Yang sekeras ciu cangkol, buah dadanya
Ke mana Ranto Gudel pergi
Panggung selalu harum dengan arak yang wangi

Di Sriwedari jadi Petruk
Gareng-nya diajak mabuk
Bagong-nya menggeloyor
Semar jualan ciu cangkol
Dengan terang lampu semprong
Pak Mloyo memukul kenong
Nong ji, nong ro, nong ji, nong

Sengkuni leda-lede
Mimpin baris, ngarep dhewe
Eh, barisane menggok
Sengkuni kok malah ndheprok?

Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro

Giginya ompong menggerong,
Ranto Gudel Mendehem nyungsep
Thuyul gundhul ke sana-ke sini mengempit gendul
Gendruwo thela-thelo, tampak loyo
Jrangkong jalannya miring-miring, eh, dhoyong
Belum selesai menabuh nong ji, nong ro
Pak Mloyo terguling ke Bengawan Solo
Dengan irama alunan nong ji, nong ro
Pak Mloyo pulang jalannya geloyoran

Sengkuni leda-lede
Mimpin baris, ngarep dhewe
Eh, barisane menggok
Sengkuni kok malah ndheprok?

Ranto Gudel meminum arak bekonang
Mengantar gadis pulang berdandan bidan
Roknya putih, bajunya putih
Serba putih lebih daripada peri
Tiba di pinggir kali
Ranto Gudel diajak belok ke kiri
Dhemit elek a'u tenan
Ngumpat, Ranto Gudel geram

Ia marah, terendam arak bekonang
Hampir saja aku bercinta dengan setan
Cinta manusia seperti Umbul Pengging
Dulu bening, sekarang keruh
Ranto Gudel dengan empat istrinya, tak pernah abadi cintanya

Sengkuni leda-lede
Mimpin baris, ngarep dhewe
Eh, barisane menggok
Sengkuni kok malah ndheprok?

Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro

Emang enak jadi wedhus daripada manusia
Bila mati, dikubur di gundukan tanah
Kepalanya dikencingi, wedhus yang merumput
Nasib manusia hanya sengsara
Oh, mengapa kita mesti bersusah?
Coba hiduplah seperti Ki Joko Lelur
Siangnya melamun, meminum limun
Malam beranjak, bangun, minum berminum

Lapen, ciu cangkol, arak bekonang, dituang
Botol cangkol dipasangnya di setiap sudut rumah
Apa guna 'tuk takut-takut tikus
Rupanya, oh, mengenang bayangan di masa tuanya
Ciu cangkol hanyalah spiritus 'tuk usir tikus
Padahal dulu ku meminumnya sampai mampus

Sengkuni leda-lede
Mimpin baris, ngarep dhewe
Eh, barisane menggok
Sengkuni kok malah ndheprok?

Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro

Sengkuni leda-lede
Mimpin baris, ngarep dhewe
Eh, barisane menggok
Sengkuni kok malah ndheprok?

Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro
Nong eh, nong ji, nong ro

Makna dan Arti Lagu

Lirik “Cintamu Sepahit Topi Miring” mengangkat tema tentang kehidupan manusia yang penuh tantangan dan perjuangan. Lagu ini juga menggambarkan perjalanan hidup Ranto Gudel, tokoh legendaris dari dunia ketoprak yang dikenal sebagai pelawak. Dalam lirik, Ranto Gudel digambarkan sebagai sosok yang sering terjebak dalam masalah, baik itu dalam hubungan cinta maupun kehidupan sehari-hari.

Selain itu, lagu ini juga menyentuh isu-isu seperti kesedihan, kehilangan, dan kehidupan yang tidak pasti. Bahasa Jawa yang digunakan dalam lirik memberikan nuansa tradisional dan mendalam, sehingga membuat pendengar merasa terhubung dengan makna yang tersirat.

The Aviator 2004 movie poster

Peran Jogja Hip Hop Foundation

Jogja Hip Hop Foundation berhasil menciptakan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan-pesan penting tentang kehidupan. Lagu “Cintamu Sepahit Topi Miring” adalah contoh bagaimana musik bisa menjadi sarana untuk menyampaikan cerita dan nilai-nilai budaya.

Kesimpulan

“Lirik Lagu ‘Cintamu Sepahit Topi Miring’ oleh Jogja Hip Hop Foundation” tidak hanya menjadi lagu favorit bagi penggemar hip hop, tetapi juga menjadi representasi dari kekayaan budaya Jawa. Dengan lirik yang penuh makna dan nada yang mengalun, lagu ini mampu menyentuh hati para pendengarnya. Bagi yang ingin merasakan pengalaman musikal yang unik, “Cintamu Sepahit Topi Miring” adalah pilihan yang sangat layak.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *