Perubahan lanskap pemasaran digital dalam dua tahun terakhir mendorong pergeseran besar dalam cara brand memanfaatkan influencer atau Key Opinion Leader (KOL). Jika sebelumnya fokus utama ada pada eksposur, kini arah strategi semakin bergeser ke hasil yang lebih terukur, terutama penjualan.
Menurut Anisa Aqcilla, transformasi ini menjadi salah satu perubahan paling signifikan di industri influencer marketing saat ini.
“Dulu brand senang kalau kontennya ditonton jutaan kali. Sekarang pertanyaannya berubah: berapa yang klik, berapa yang beli. Jadi KOL tidak hanya dituntut kreatif, tapi juga punya kemampuan menjual,” ujarnya.
Perubahan tersebut sejalan dengan pergeseran perilaku konsumen yang semakin bergantung pada platform digital, khususnya video pendek. Konten berbasis short video kini mendominasi, menggantikan format panjang yang sebelumnya populer.
Anisa menilai, fenomena ini tidak lepas dari karakter konsumen yang semakin selektif terhadap iklan.
“Iklan itu sifatnya interruption, sementara KOL adalah rekomendasi. Konsumen sekarang lebih percaya orang yang mereka ikuti sehari-hari dibanding iklan yang terlalu terang-terangan,” katanya.
Efektivitas pendekatan ini semakin terlihat dengan berkembangnya ekosistem social commerce. Integrasi antara konten dan fitur belanja, seperti affiliate link dan TikTok Shop, membuat proses konversi menjadi lebih singkat dan langsung.
Dalam konteks ini, Anisa melihat bahwa tidak semua influencer memiliki peran yang sama. Untuk mendorong penjualan langsung, ia menilai micro influencer dengan jumlah pengikut antara 10.000 hingga 100.000 justru lebih efektif karena memiliki tingkat kedekatan dan kepercayaan yang lebih tinggi dengan audiens.
Sementara itu, macro influencer masih relevan untuk membangun kesadaran merek dalam skala luas.
Namun demikian, ia juga menyoroti masih banyak brand yang belum memahami strategi ini secara menyeluruh. Salah satu kesalahan yang kerap terjadi adalah memilih influencer hanya berdasarkan jumlah pengikut tanpa mempertimbangkan kualitas audiens dan rekam jejak performa.
“Banyak yang tidak melakukan due diligence. Padahal penting untuk memastikan engagement-nya organik dan tidak bermasalah dari sisi reputasi,” ujarnya.
Perjalanan Anisa di industri ini berangkat dari pengalaman personalnya sebagai kreator kecil. Dari sana, ia melihat adanya kesenjangan antara brand yang kesulitan menjangkau pasar dan kreator yang kesulitan mendapatkan peluang kerja sama.
Berangkat dari hal tersebut, ia membangun SA Agency sebagai jembatan antara keduanya. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus.
Ia mengakui bahwa tantangan terbesar di awal adalah membangun kepercayaan, baik dari sisi brand maupun talent. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, pihaknya harus menanggung pembayaran talent terlebih dahulu di tengah keterlambatan pembayaran dari klien.
“Pernah hampir berhenti karena tekanan cash flow. Tapi dari situ kami belajar bahwa trust itu fondasi utama di industri ini,” ungkapnya.
Seiring waktu, SA Agency berkembang dan kini telah menangani lebih dari 200 klien, dengan sekitar 60 hingga 70 brand aktif setiap bulannya. Pertumbuhan ini turut mencerminkan meningkatnya kebutuhan brand terhadap strategi pemasaran berbasis influencer.
Ke depan, Anisa melihat industri ini akan semakin berbasis data. Ia tengah mengembangkan sistem yang memungkinkan pencocokan antara brand dan talent dilakukan berdasarkan histori performa, bukan sekadar jumlah pengikut.
Selain itu, ia juga berencana membangun ekosistem yang lebih luas melalui program pengembangan kreator.
“Saya ingin talent tidak hanya dapat campaign, tapi juga berkembang secara skill dan value. Jadi ekosistemnya lebih sehat,” ujarnya.
Dengan perubahan perilaku konsumen yang terus berkembang dan integrasi teknologi yang semakin kuat, influencer marketing diperkirakan akan tetap menjadi salah satu pilar utama dalam strategi pemasaran digital.
Bagi Anisa, kunci utamanya bukan hanya mengikuti tren, tetapi memahami arah perubahan dan beradaptasi lebih cepat dari pasar.


Komentar