Dalam dunia keilmuan Islam, istilah “mutawatir” sering muncul dalam konteks hadis dan pengetahuan agama. Kata ini memiliki makna yang kaya akan makna dan relevansi dalam memahami sumber-sumber ajaran Islam. Dari segi bahasa, “mutawatir” berasal dari kata “tawatara”, yang berarti “berurutan” atau “terus-menerus”. Namun, dalam konteks keilmuan, istilah ini lebih dikenal sebagai istilah teknis dalam ilmu hadis, menggambarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi di setiap tingkatan sanadnya.
Ketika membahas arti kata “mutawatir”, kita tidak hanya berbicara tentang jumlah perawi, tetapi juga tentang kepercayaan terhadap kebenaran hadis tersebut. Hadis mutawatir dianggap sebagai salah satu bentuk bukti paling kuat dalam memperkuat keyakinan umat Islam. Hal ini karena jumlah perawi yang banyak membuat sulit bagi mereka untuk sepakat melakukan pemalsuan atau dusta. Oleh karena itu, hadis mutawatir menjadi referensi utama dalam menentukan hukum syariah, akidah, dan praktik keagamaan.
Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi makna “mutawatir” secara lengkap, termasuk definisi, syarat, jenis-jenisnya, contoh, serta pentingnya dalam konteks agama dan keilmuan. Artikel ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam kepada pembaca, baik yang baru belajar agama maupun yang sudah lebih memahami dasar-dasar ilmu hadis. Dengan informasi yang terstruktur dan mudah dipahami, artikel ini akan menjadi panduan lengkap untuk memahami arti kata “mutawatir”.
Pengertian Mutawatir dalam Bahasa dan Istilah
Secara etimologis, kata “mutawatir” berasal dari kata kerja “tawatara” yang berarti “berurutan” atau “terus-menerus”. Dalam konteks bahasa Arab, istilah ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang terjadi secara berulang atau beruntun. Dalam ilmu hadis, istilah “mutawatir” memiliki makna yang lebih spesifik dan teknis.
Menurut definisi para ulama, hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi pada setiap tingkatan sanadnya. Keistimewaan dari hadis ini adalah bahwa jumlah perawi yang meriwayatkannya begitu banyak sehingga mustahil bagi mereka untuk sepakat berdusta atau memalsukan hadis tersebut. Kebiasaan dan logika menyatakan bahwa tidak mungkin sekelompok orang yang besar dan berbeda latar belakang bisa bersepakat untuk menipu atau memalsukan sesuatu. Oleh karena itu, hadis mutawatir dianggap sebagai sumber ajaran yang sangat kuat dan dapat dipercaya.
Beberapa ahli hadis seperti Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menyebutkan bahwa hadis mutawatir tidak hanya ditandai oleh jumlah perawi yang banyak, tetapi juga oleh kepastian bahwa perawi-perawi tersebut bersandar pada pengalaman indrawi seperti mendengar atau melihat langsung. Hal ini memperkuat keabsahan hadis tersebut, karena tidak ada alasan untuk meragukan pengalaman indrawi yang disampaikan oleh perawi-perawi yang banyak jumlahnya.
Syarat-Syarat Hadis Mutawatir
Untuk dapat dikategorikan sebagai hadis mutawatir, suatu hadis harus memenuhi beberapa syarat tertentu yang telah ditentukan oleh para ulama. Berikut adalah syarat-syarat utama yang biasanya digunakan:
-
Jumlah Perawi yang Banyak: Hadis mutawatir harus diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi pada setiap tingkatan sanadnya. Jumlah ini tidak didefinisikan secara pasti, tetapi biasanya dianggap cukup jika jumlah perawi mencapai angka yang membuat sulit bagi mereka untuk bersekongkol melakukan pemalsuan.
-
Tidak Mungkin Bersekongkol untuk Dusta: Salah satu ciri utama hadis mutawatir adalah bahwa para perawi tidak mungkin bersepakat untuk berdusta atau memalsukan hadis. Hal ini didasarkan pada kebiasaan bahwa jumlah perawi yang besar dan berbeda latar belakang sulit untuk saling berkonsultasi atau bersepakat.
-
Bersandar pada Pengalaman Indrawi: Hadis mutawatir harus bersandar pada pengalaman indrawi seperti pendengaran atau penglihatan. Kalimat-kalimat seperti “kami mendengar” atau “kami melihat” sering muncul dalam riwayat hadis mutawatir, menunjukkan bahwa perawi meriwayatkan sesuatu yang mereka alami sendiri.
-
Kepercayaan Terhadap Kebenaran Hadis: Karena sifatnya yang kuat dan tidak mungkin dipalsukan, hadis mutawatir dianggap sebagai sumber ajaran yang pasti dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, tidak diperlukan penelitian lanjutan terhadap sanad atau perawi.
-
Keberadaan yang Tidak Harus Sama dengan Al-Qur’an: Meskipun hadis mutawatir memiliki bobot yang kuat, keberadaannya tidak selalu sebanyak Al-Qur’an. Beberapa ulama berpendapat bahwa jumlah hadis mutawatir sangat sedikit dibandingkan hadis-hadis lainnya.
Dengan memenuhi syarat-syarat di atas, suatu hadis dapat dikategorikan sebagai hadis mutawatir dan dianggap sebagai sumber ajaran yang sangat kuat dalam Islam.
Jenis-Jenis Hadis Mutawatir
Hadis mutawatir dapat dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu Mutawatir Lafdzi dan Mutawatir Ma’nawi. Kedua jenis ini memiliki karakteristik dan ciri-ciri yang berbeda, namun sama-sama dianggap sebagai sumber ajaran yang kuat dalam Islam.
1. Mutawatir Lafdzi
Mutawatir lafdzi adalah jenis hadis yang lafaznya dan maknanya mutawatir. Artinya, teks atau bunyi hadis tersebut sama persis antara satu riwayat dengan riwayat lainnya. Contoh yang sering disebutkan adalah hadis: “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam), maka dia akan mendapatkan tempat duduknya dari api neraka.” Hadis ini telah diriwayatkan oleh lebih dari 70 sahabat, dan semua riwayatnya memiliki lafaz yang sama.
Ciri utama dari hadis mutawatir lafdzi adalah kesamaan teks antara satu riwayat dengan riwayat lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa hadis tersebut telah diriwayatkan secara berulang dan konsisten oleh banyak perawi. Oleh karena itu, hadis ini dianggap sangat kuat dan dapat dipercaya tanpa perlu penelitian lanjutan.
2. Mutawatir Ma’nawi
Berbeda dengan mutawatir lafdzi, mutawatir ma’nawi adalah jenis hadis yang maknanya mutawatir, tetapi lafaznya berbeda-beda. Artinya, meskipun teks hadis berbeda-beda, maknanya tetap sama. Contohnya adalah hadis tentang cara Nabi Muhammad SAW mengangkat tangan saat berdoa. Ada sekitar 100 hadis yang meriwayatkan hal ini, namun setiap hadis memiliki teks yang berbeda, tetapi maknanya tetap sama.
Ciri utama dari hadis mutawatir ma’nawi adalah kesamaan makna antara satu riwayat dengan riwayat lainnya. Meskipun teksnya berbeda, maknanya tetap konsisten, sehingga hadis ini tetap dianggap sebagai sumber ajaran yang kuat. Oleh karena itu, hadis mutawatir ma’nawi juga dianggap sebagai sumber hujah dalam bidang akidah dan hukum syariah.
Contoh Hadis Mutawatir dan Artinya
Berikut adalah beberapa contoh hadis mutawatir beserta artinya, yang sering disebut dalam kitab-kitab hadis dan literatur keislaman:
- Hadis Tentang Berdusta
- Arti: “Siapa saja yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari)
-
Penjelasan: Hadis ini diriwayatkan oleh lebih dari 70 sahabat dan memiliki lafaz yang sama dalam setiap riwayatnya, sehingga termasuk dalam kategori mutawatir lafdzi.
-
Hadis Tentang Turunnya Nabi Isa bin Maryam
- Arti: “Demi Allah, Isa Ibnu Maryam sungguh akan turun (ke bumi) sebagai hakim yang adil dan akan menghancurkan salib.” (HR. Muslim:155)
-
Penjelasan: Hadis ini diriwayatkan oleh banyak perawi, dan meskipun teksnya sedikit berbeda, maknanya tetap konsisten, sehingga termasuk dalam kategori mutawatir ma’nawi.
-
Hadis Tentang Mengangkat Tangan Saat Berdoa
- Arti: “Nabi SAW selalu mengangkat kedua tangannya dalam berdoa.”
-
Penjelasan: Hadis ini diriwayatkan oleh lebih dari 100 sahabat, dan meskipun teksnya berbeda-beda, maknanya tetap sama, sehingga termasuk dalam kategori mutawatir ma’nawi.
-
Hadis Tentang Telaga Nabi
- Arti: “Allah merasa senang kepada seseorang yang mendengar ucapanku.”
- Penjelasan: Hadis ini diriwayatkan oleh banyak perawi dan memiliki makna yang konsisten, sehingga termasuk dalam kategori mutawatir ma’nawi.
Pentingnya Hadis Mutawatir dalam Agama dan Keilmuan
Hadis mutawatir memiliki peran yang sangat penting dalam agama dan keilmuan Islam. Sebagai sumber ajaran yang kuat dan dapat dipercaya, hadis ini menjadi rujukan utama dalam menentukan hukum syariah, akidah, dan praktik keagamaan. Oleh karena itu, pemahaman tentang hadis mutawatir sangat penting bagi umat Islam yang ingin memperdalam pengetahuan agama.
Selain itu, hadis mutawatir juga menjadi salah satu sumber utama dalam memahami ajaran Nabi Muhammad SAW. Karena sifatnya yang qath’i (pasti), hadis ini tidak memerlukan penelitian lanjutan terhadap sanad atau perawi. Hal ini membuat hadis mutawatir menjadi sumber ajaran yang sangat kuat dan dapat dijadikan pedoman dalam hidup sehari-hari.
Dalam konteks keilmuan, hadis mutawatir juga menjadi bahan kajian yang mendalam bagi para ilmuwan dan peneliti. Banyak kitab dan karya ilmiah telah ditulis oleh para ulama untuk mengumpulkan dan menganalisis hadis-hadis mutawatir. Kitab-kitab seperti Al-Azhar Al-Mutanatsirah karya As-Suyuthi dan Qathful Azhar karya As-Suyuthi adalah contoh dari karya-karya tersebut.
Kesimpulan
Arti kata “mutawatir” dalam konteks agama dan keilmuan sangat penting untuk dipahami. Kata ini menggambarkan hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi di setiap tingkatan sanadnya, sehingga tidak mungkin untuk berdusta atau memalsukan. Hadis mutawatir memiliki sifat yang kuat dan dapat dipercaya, sehingga menjadi sumber ajaran yang utama dalam Islam.
Dalam artikel ini, kita telah membahas pengertian mutawatir, syarat-syaratnya, jenis-jenisnya, contoh-contohnya, serta pentingnya dalam agama dan keilmuan. Semua informasi ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang arti kata “mutawatir” dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.
Dengan memahami konsep mutawatir, umat Islam dapat lebih percaya pada sumber-sumber ajaran Islam dan menjalankan ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW dengan penuh keyakinan dan kepercayaan.


Komentar