Apa Itu SKU? Pengertian dan Fungsi SKU dalam Bisnis
Pada era digital saat ini, manajemen inventaris menjadi salah satu aspek penting dalam bisnis. Salah satu alat yang digunakan untuk mengelola stok barang adalah SKU (Stock Keeping Unit). SKU adalah singkatan dari Stock Keeping Unit, sebuah kode unik yang digunakan oleh perusahaan untuk mengidentifikasi dan melacak setiap produk yang mereka jual. Dengan adanya SKU, bisnis dapat meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat proses penjualan, dan mengurangi kesalahan dalam pengelolaan stok.
SKU sangat penting dalam dunia bisnis, terutama di sektor ritel, karena memberikan informasi spesifik tentang setiap item yang tersedia. Kode ini membantu perusahaan dalam mengelola persediaan, memantau penjualan, dan merencanakan pengadaan ulang produk. Selain itu, SKU juga berperan dalam menganalisis data penjualan dan mengidentifikasi tren produk yang paling diminati.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap apa itu SKU, bagaimana fungsinya dalam bisnis, serta manfaatnya bagi pengelolaan inventaris. Kami juga akan memberikan contoh penerapan SKU dan tips untuk membuat kode yang efektif.
Apa Itu SKU?
SKU adalah sistem identifikasi unik yang digunakan oleh perusahaan untuk mengelola stok barang. Kode ini biasanya terdiri dari kombinasi huruf dan angka yang mencerminkan informasi spesifik tentang suatu produk, seperti kategori, ukuran, warna, merek, atau nomor produksi. Misalnya, SKU untuk sepatu Nike hitam ukuran 42 bisa berupa “SHO-NK-BLK-42”.
Secara umum, SKU memiliki beberapa fungsi utama:
- Mengidentifikasi Produk dengan Spesifik: Setiap produk memiliki SKU yang berbeda, sehingga mudah dikenali dan dilacak.
- Melacak Inventaris: SKU membantu perusahaan mengetahui jumlah stok yang tersedia dan memastikan ketersediaan barang.
- Membantu Restock Produk: Dengan SKU, perusahaan dapat mengetahui produk mana yang perlu dibeli kembali.
- Meningkatkan Efisiensi Operasional: SKU memudahkan proses pencatatan, pengiriman, dan pengelolaan stok.
Fungsi Utama SKU dalam Bisnis
SKU tidak hanya berfungsi sebagai kode identifikasi, tetapi juga menjadi alat penting dalam pengelolaan bisnis. Berikut adalah beberapa fungsi utama SKU:
1. Mengidentifikasi Produk Secara Spesifik
Setiap produk memiliki SKU yang berbeda, sehingga memudahkan pengelolaan dan pelacakan. Contohnya, jika kamu menjual baju wanita, SKU bisa mencakup informasi seperti warna, ukuran, dan jenis bahan.
2. Melacak Inventaris
SKU membantu perusahaan mengetahui jumlah stok yang tersedia. Dengan sistem yang terintegrasi, perusahaan dapat memantau pergerakan barang secara real-time dan menghindari kekurangan stok atau overstock.
3. Membantu Menyesuaikan Level Stok
Dengan data dari SKU, perusahaan dapat menentukan level stok optimal untuk setiap produk. Hal ini membantu dalam pengambilan keputusan pembelian dan restock.
4. Mengidentifikasi Penyusutan dalam Persediaan
SKU juga membantu mengidentifikasi penyusutan stok, seperti kerusakan atau kehilangan barang. Data ini bisa digunakan untuk mencegah kerugian dan meningkatkan akurasi pengelolaan inventaris.
5. Menentukan Produk yang Paling Menguntungkan
Dengan analisis data dari SKU, perusahaan dapat mengetahui produk mana yang paling laris dan yang perlu ditingkatkan. Ini membantu dalam strategi pemasaran dan pengembangan produk.
6. Membantu Konsumen Menemukan Produk yang Diinginkan
SKU juga berperan dalam memudahkan konsumen menemukan produk yang mereka cari. Dengan informasi yang jelas, konsumen dapat langsung mengidentifikasi produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Manfaat SKU dalam Pengelolaan Stok
Penggunaan SKU memberikan berbagai manfaat dalam pengelolaan stok, antara lain:
1. Memudahkan Identifikasi Produk
SKU memungkinkan setiap produk memiliki kode unik yang memudahkan identifikasi di gudang atau toko. Dengan penerapan aplikasi inventory management yang baik, proses pencarian dan pemindaian produk menjadi lebih cepat dan efisien.
2. Meningkatkan Efisiensi Pelayanan Pelanggan
Dengan sistem SKU yang terintegrasi, waktu yang dibutuhkan untuk melayani pelanggan berkurang secara signifikan. Produk dapat ditemukan dengan cepat, mempercepat proses transaksi dan meningkatkan kepuasan pelanggan.
3. Memungkinkan Pelacakan dan Pengelolaan Stok yang Lebih Baik
SKU membantu bisnis untuk memonitor stok inventaris secara lebih mendalam dan efektif. Data yang diperoleh dapat digunakan untuk menganalisis tren penjualan, mengidentifikasi produk yang diminati, serta merencanakan strategi promosi atau diskon yang lebih tepat.
4. Menyederhanakan Pengelolaan Pesanan dan Pengiriman
Dengan adanya SKU, proses pengidentifikasian produk dalam pesanan menjadi lebih mudah. Hal ini mengurangi risiko kesalahan pengiriman dan memastikan produk yang tepat sampai ke pelanggan dengan waktu yang lebih efisien.
5. Optimasi Pengadaan dan Pembelian Stok
SKU berfungsi dalam mengelola pengadaan stok secara lebih terstruktur. Bisnis dapat merencanakan pembelian dengan lebih akurat, menghindari overstock atau stockout, dan memastikan ketersediaan produk yang optimal.
6. Mempermudah Penyusunan Laporan Inventaris
Dengan menggunakan sistem SKU, pembuatan laporan inventaris menjadi lebih mudah dan akurat. Data yang diperoleh dari SKU mempermudah proses pelaporan, yang penting untuk pengambilan keputusan manajerial dan analisis performa produk.
7. Meningkatkan Konsistensi dan Akurasi Data
Integrasi sistem pencatatan SKU yang efisien sangat penting untuk menjaga konsistensi dan akurasi data inventaris. Penggunaan SKU yang terstandarisasi memastikan bahwa seluruh tim dapat bekerja dengan data yang sama, meminimalkan kesalahan.
8. Mendukung Keputusan Bisnis Berdasarkan Data
Manfaat SKU yang luas memungkinkan bisnis untuk mengambil keputusan berbasis data yang lebih baik. Dengan analisis data yang terperinci, perusahaan dapat merumuskan strategi pertumbuhan yang lebih terarah dan efisien.
Perbedaan SKU dengan UPC
Meskipun SKU dan UPC (Universal Product Code) sama-sama merupakan kode identifikasi produk, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan:
1. Ruang Lingkup dan Tujuan
SKU adalah kode alfanumerik yang diberikan oleh perusahaan untuk tujuan internal pengelolaan inventaris. Contoh SKU produk dapat mencakup informasi seperti kategori, subkategori, ukuran barang, dan warna, yang mempermudah identifikasi spesifik produk di gudang atau toko.
Sebaliknya, UPC adalah kode produk standar yang digunakan secara global dan biasanya dihasilkan oleh produsen. UPC terdiri dari 12 digit angka unik yang memungkinkan produk untuk dikenali dan diproses oleh semua pengecer.
2. Penggunaan
SKU digunakan oleh retailer untuk mengelola stok mereka sendiri, sementara UPC digunakan oleh produsen untuk identifikasi produk secara universal.
3. Format
SKU biasanya terdiri dari kombinasi huruf dan angka yang lebih fleksibel, sedangkan UPC terdiri dari 12 digit angka yang bersifat universal.
4. Tujuan Penggunaan
SKU digunakan untuk tujuan internal, seperti pengelolaan stok dan analisis penjualan, sedangkan UPC digunakan untuk tujuan eksternal, seperti pemrosesan pembayaran dan pengelolaan distribusi.
Contoh Penerapan SKU
Berikut adalah beberapa contoh penerapan SKU dalam bisnis:
1. Contoh SKU pada Toko Roti
Jika kamu memiliki toko roti yang menjual beberapa jenis roti dengan berbagai macam merek, kamu bisa membuat SKU untuk setiap jenis roti. Misalnya, untuk roti tawar gandum, tanggal produksi 19 Juni, dengan merek ABC, kamu bisa membuat SKU: TWR-GNDM-1906-ABC.
2. Contoh SKU pada Retail Apparel
Apabila kamu bergerak di bidang retail pakaian, menggunakan SKU tentu akan sangat mempermudah pekerjaan. Misalnya, untuk jenis pakaian sweater, berwarna biru, ukuran medium, nomor manufaktur A345, dan merek AAA, label yang digunakan adalah SWE-M-A345-AAA.
3. Contoh SKU pada Retail Perabot Rumah Tangga
Retail perabot rumah tangga tentunya memiliki kuantitas produk dan jenis yang cukup banyak. Akan lebih mudah jika membuat SKU berdasarkan kategori dari jenis produk yang ada. Misalnya, alat dapur, furniture, bedding, dan lainnya. Dengan begitu, konsumen juga akan lebih mudah menemukan barang yang mereka cari, juga mengetahui stok yang tersedia.
Masalah Umum dalam SKU
Meskipun penggunaan Stock Keeping Unit (SKU) sangat bermanfaat dalam manajemen inventaris, ada beberapa masalah umum yang sering dihadapi oleh banyak perusahaan dalam mengelola SKU dengan efektif. Memahami tantangan ini dapat membantu bisnis menghindari kesalahan yang dapat mengganggu efisiensi operasional. Berikut adalah beberapa masalah umum yang terkait dengan SKU:
1. Kode SKU yang Tidak Konsisten
Salah satu masalah terbesar adalah ketidakkonsistenan dalam penentuan format kode SKU. Jika format tidak jelas atau tidak standar, staf dapat kesulitan dalam mengidentifikasi produk secara cepat dan akurat. Hal ini dapat menyebabkan kebingungan, keterlambatan dalam pengelolaan inventaris, dan kesalahan dalam pengiriman barang.
2. Kesalahan Penginputan Data
Penginputan data SKU yang tidak akurat atau terlambat dapat mengganggu keseluruhan sistem manajemen inventaris. Kesalahan ini sering terjadi ketika informasi produk tidak tercatat dengan benar, seperti ukuran atau warna yang tidak sesuai, yang pada akhirnya berisiko menyebabkan kekeliruan dalam stok dan pengiriman barang.
3. Overstock atau Stockout
Salah satu tujuan utama dari penggunaan SKU adalah untuk menjaga keseimbangan stok. Namun, tanpa pengelolaan yang cermat, perusahaan bisa menghadapi masalah overstock (kelebihan stok) atau stockout (kekurangan stok). Kedua masalah ini dapat merugikan bisnis: overstock mengakibatkan pemborosan biaya penyimpanan, sementara stockout bisa menghambat penjualan dan merusak reputasi pelanggan.
4. Tidak Tersedianya Sistem Integrasi yang Tepat
Tanpa sistem manajemen inventaris yang terintegrasi dengan baik, pelacakan SKU menjadi lebih sulit. Bisnis yang mengelola stok secara manual atau menggunakan beberapa sistem yang tidak terhubung dapat menghadapi kesulitan dalam memastikan akurasi data stok. Hal ini bisa menghambat visibilitas stok secara real-time dan menyulitkan pengambilan keputusan yang cepat.
5. Kurangnya Pemeliharaan dan Pembaruan SKU
SKU perlu diperbarui secara rutin agar tetap relevan dengan perubahan produk atau kondisi pasar. Tanpa pemeliharaan yang baik, data SKU bisa menjadi usang, mengakibatkan kebingungan dalam identifikasi produk dan kesalahan dalam pemesanan atau pengiriman.
6. Kurangnya Pelatihan Staf
Tanpa pelatihan yang memadai untuk staf yang mengelola SKU, kemungkinan terjadi kesalahan dalam penggunaan dan pemahaman SKU sangat tinggi. Hal ini bisa mempengaruhi kualitas manajemen inventaris dan meningkatkan risiko kesalahan operasional.
Cara Membuat dan Mengelola Kode SKU yang Efektif
Membuat dan mengelola kode Stock Keeping Unit (SKU) yang efektif merupakan langkah penting dalam meningkatkan efisiensi manajemen inventaris. Berikut adalah langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam pembuatan dan pengelolaan SKU yang baik:
1. Pilih Format yang Konsisten dan Mudah Dipahami
Mulailah dengan menentukan format kode SKU yang jelas dan konsisten. Anda bisa menggabungkan huruf untuk mewakili kategori produk dan angka untuk memberikan informasi lebih lanjut tentang produk tersebut. Format yang konsisten akan mempermudah staf dalam mengidentifikasi produk dengan cepat.
2. Gunakan Software Manajemen Inventaris
Pengelolaan SKU yang baik sangat bergantung pada perangkat lunak manajemen inventaris yang tepat. Aplikasi seperti Total-ERP dapat membantu Anda mengorganisasi dan mencatat stok barang secara akurat, mengurangi risiko kekurangan atau kelebihan stok.
3. Sesuaikan Format SKU Berdasarkan Jenis Produk
Setiap industri atau jenis produk mungkin memerlukan format SKU yang berbeda. Misalnya, untuk toko sepatu, Anda bisa menggunakan format seperti SPT-NK-38-BLK-003, sementara untuk elektronik, formatnya bisa berupa 0452-SMRT-SHP-HD45. Menyesuaikan format SKU dengan jenis produk membantu dalam optimalisasi inventaris dan mempermudah proses identifikasi barang.
4. Manfaatkan Aplikasi untuk Efektivitas Manajemen Inventaris
Banyak perusahaan yang melaporkan peningkatan efisiensi setelah mengimplementasikan sistem SKU. Dengan penggunaan sistem aplikasi stok barang yang tepat, bisnis dapat mengurangi risiko kehilangan stok, menghindari overstock, dan mencapai tingkat persediaan optimal yang lebih sesuai dengan permintaan pelanggan.
5. Lakukan Pemeliharaan dan Pembaruan Data SKU
Pemeliharaan data SKU yang akurat dan terkini sangat penting. Secara rutin, pastikan informasi SKU diperbarui dan mudah diakses oleh seluruh tim. Ini membantu menjaga konsistensi dan akurasi dalam pengelolaan inventaris.
6. Tingkatkan Penghematan Biaya dan Produktivitas
Implementasi sistem SKU yang efektif memiliki ROI yang tinggi. Dengan mengoptimalkan pengelolaan stok, perusahaan dapat menghemat biaya operasional dan meningkatkan produktivitas. Hal ini tercapai melalui pengelolaan stok yang lebih efisien dan pengurangan risiko kesalahan.
Kesimpulan
Pengelolaan inventaris yang efektif sangat bergantung pada penggunaan sistem Stock Keeping Unit (SKU), yang memberikan kode unik untuk setiap produk. Dengan memahami dan mengimplementasikan SKU dengan benar, bisnis dapat mengidentifikasi, melacak, dan mengelola produk dengan lebih efisien, mencegah kesalahan pengiriman, dan memastikan ketersediaan stok yang tepat. Selain itu, SKU juga membantu dalam pengambilan keputusan berbasis data yang lebih baik dan meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan.
Namun, pengelolaan SKU bukan tanpa tantangan. Masalah seperti ketidakkonsistenan kode, kesalahan penginputan data, dan kurangnya pelatihan staf bisa menghambat efektivitas sistem ini. Untuk mengatasi hal tersebut, menggunakan perangkat lunak manajemen inventaris yang tepat sangat penting. Software stok barang Total ERP dapat membantu Anda mengelola SKU dengan lebih efisien dan akurat, sekaligus memberikan visibilitas stok secara real-time, sehingga Anda dapat menghindari masalah overstock atau stockout. Anda juga dapat mencoba demo gratis untuk melihat bagaimana aplikasi ini dapat meningkatkan efisiensi manajemen inventaris bisnis Anda.


Komentar