HALO NUSANTARA, YOGYAKARTA – Tiga mahasiswa Program Studi Desain Mode Batik Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang terdiri dari Hanifah, Nilla, dan Faiqotul, berhasil menciptakan desain batik pola baru yang ditujukan sebagai sampel pelatihan perancangan busana kemeja pria.
Proyek kreatif ini merupakan bagian dari program “Mahasiswa Berdampak 2026” melalui skema magang, di mana mereka berkesempatan menimba ilmu dan berkontribusi langsung di Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Yogyakarta.
Di bawah bimbingan intensif dari Ibu Risty yang memiliki pengalaman lebih dari dua puluh tahun di BBSPJIKB, ketiga mahasiswa ini berhasil merampungkan seluruh proses perancangan dalam waktu kurang lebih satu bulan.
Proses pembuatan perancangan sampel diawali dengan eksplorasi kekayaan alam dan ikon khas dari tiga daerah yang telah ditentukan.
Unsur-unsur khas dari masing-masing daerah kemudian dikembangkan melalui proses stilasi menjadi motif batik kontemporer yang dituangkan ke dalam gambar kerja sebagai master motif sekaligus acuan dalam proses produksi.
Selanjutnya, master motif ditata secara presisi dengan mempertimbangkan aspek estetika yang disesuaikan dengan komponen pola kemeja, meliputi bagian badan depan, badan belakang, lengan, kerah, manset, dan saku.
Setelah proses penataan selesai motif dipindah pada kain 2,5 meter sesuai dengan penempatan potong pola kemeja.
Setelah proses penataan motif selesai dilanjutkan dengan pencantingan menggunakan malam panas, kemudian diakhiri dengan proses pewarnaan menggunakan zat warna sintetis hingga menghasilkan sampel batik pola yang siap digunakan.

Batik karya Nilla

Batik karya Hanifah
Proses perancangan ini menuntut ketelitian tinggi, terutama dalam memastikan ukuran pola yang akurat agar motif bertemu dan menyatu dengan sempurna saat kemeja dijahit yang disebut “Nggatuk” atau dibeberapa pembatik disebut juga dengan “Sanggit”.
Khususnya pada bagian potongan pola depan yang perlu dipastikan secara berulang disetiap tahapannya. Selain aspek teknis pola, kesabaran serta ketelatenan juga penting selama proses membatik dari awal hingga selesai.
Mahasiswa juga harus melakukan uji coba pewarnaan berkali-kali demi mendapatkan warna sintetis yang benar-benar sesuai dengan konsep awal.
Hanifah, salah satu anggota tim mahasiswa magang, mengungkapkan rasa syukur dan harapannya atas rampungnya proyek ini.
“Kami berharap karya desain batik pola yang dihasilkan ini bisa memberikan manfaat nyata dan menjadi referensi yang baik bagi para peserta pelatihan di BBSPJIKB ke depannya. Bagi kami sendiri, kesempatan magang ini menjadi ruang belajar yang sangat luar biasa. Kami bisa menyerap banyak ilmu baru, mulai dari aspek teknis perancangan busana kemeja pria yang presisi, hingga memahami bagaimana proses membatik yang baik dan benar sesuai standar industri,” ungkap Hanifah.
Kini, karya kolaboratif ini telah selesai dan siap digunakan secara resmi sebagai sampel acuan bagi para peserta pelatihan perancangan busana di BBSPJIKB.
Melalui program Mahasiswa Berdampak 2026 ini, Hanifah, Nilla, dan Iqo tidak hanya berhasil mengaplikasikan ilmu akademik mereka, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pelatihan industri batik nasional.


Komentar